JENIS_JENIS TIRTHA

Kaindahan serta keunikan pulau Bali tidak hanya terlihat pada alam dan budayanya namun juga pada agama dan spiritualitasnya. Budaya Bali yang tumbuh berkembang telah berakar kuat dan menjadi wadah bagi perkembangan agama Hindu dikemudian Hari. Budaya Bali dengan lokalitasnya yang khas memberi ruang bagi perkembangnya agama Hindu sehingga membentuk kepercayaan Masyarakat Bali. Tidak salah Stuterheim (1999) menulis agama Hindu di Bali merupakan rajutan kepercayaan yang indah antara tiga tradisi, yaitu tradisi lokal berbasis agraris (dengan indegious knowledgenya yang mapan, atau pengetahuan berdasarkan determinis alam sehingga masyarakat bali belajar atau tumbuh kembang budayanya berdasarkan adaptasi dengan alam), tradisi besar yaitu agama Hindu yang datang kemudian dan tradisi progresif global. Bertahannya tradisi agraris dalam menunjang kepercayaan masyarakat Bali terlihat bagaimana fungsi air sangat sentral dan sakral, sehingga memunculkan air suci atau tirtha. Kepercayaan masyarakat Bali sempat populer dengan julukan “Agama Tirtha”. Pelaksaan Ritual keagamaan di Bali tidak dapat dimulai tanpa tirtha juga tidak dapat berakhir tanpa tirtha, pun dengan tujuan suatu persembahyangan yaitu mencari tirtha. Penelitian Nordholt dengan mengambil setting di kerajaan Mengwi abad 16 sampai masa awal penjajahan menyatakan tiga jenis air yang menjadi pembentuk kultur yaitu Air Mani, Air Suci atau Tirtha dan Air Sungai. Tirtha atau air suci memiliki fungsi dalam pembentuk relasi hierarkis.

Secara umum ada dua kali penirthaan, pertama dilaksanakan sebelum persembahyangan utama berlangsung, kedua setelah upacara persembahyangan. Pemberian tirtha sebelum upacara persembahyangan disebut tirtha pebersihan sedangkan setelah persembahyangan utama disebut tirtha wangsuhpada. Menurut Wiana (2000) arti dan fungsi tirtha dalam Agama Hindu Bali dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu 1) berfungsi sebagai penyucian atau pebersihan atau penglukatan, 2) sebagai pengurip atau pencipta, 3) sebagai pemelihara. Tirtha sebagai penyucian dibuat oleh sulingih diperciki pada bebantenan atau upakara sebelum dipersembahkan atau menjadi Niyasa (simbol suci), tirtha pengelukatan juga diperciki pada umat yang melaksakan persembahyangan atau ritual keagamaan.

Tirtha pangurip-urip atau penciptaan berfungsi menghidupkan atau memberikan “spirit” pada upakara dalam suatu ritual sehingga tidak hanya sekedar menjadi benda atau simbol mati, tetapi memiliki daya atau energi. Tirtha yang fungsinya sebagai pemberi spirit umumnya diperciki pada bangunan saat upacara pemlaspasan dimana agar bangunan yang ditempati yang berasal dari tanah, batu, dan sejenisnya diberikan untuk untuk menjaga, mengharmonisasi dan memberikan energi kepada si penghuni. Bangunan yang telah tertata tidak hanya suatu tumbukan batu, paras, atau batako tetapi merupakan bagian tidak terpisahkan bagi si penghuni, melalui tirth pangurip-uriplah energi positif diperoleh si penghuni dari huniannya.

Tirtha pemeliharaan selain berfungsi sebagai pemelihara juga sebagai simbol berkah suci yang diterima oleh penyembah kepada yang disembah yaitu Tuhan. Kongkritnya tirtha yang berfungsi sebagai pemelihara dapat dilihat ketika umat menerima air suci setelah persembahyangan selesai. Air suci tersebut diperoleh dari pemangku yang bertugas, kemudian diminum tiga kali, diraup diwajah. Dalam hal ini tirtha sebagai suatu anugrah suci yang dapat memelihara sradha dan bhakti umat kepada Tuhan. Selain itu Martha (2015) menyebutkan terdapat beberapa jenis tirtha yaitu 1) tirtha wangsuhpada, 2) tirtha amerta, 3) tirtha penglukatan, 4) tirtha pabyakalan, 5) tirtha pangentas.

Tirtha wangsuhpada seperti penjelasan di atas merupakan air suci yang dimohonkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai anugrah suci setelah selesai melakukan persembahyangan. Tirtha ini bersifat stithi atau sebagai pemelihara rasa bhakti kepada Tuhan atas anugrah yang telah diterima. Tirtha amerta merupakan hasil usaha para Dewa dan Raksasa dalam memutar Gunung Mandara di laut yang diyakini jika meminumnya akan mendapatkan keabadian hidup. Tirtha ini terdapat dilaut yang mana ketika upacara melasti maka mencari tirtha ke tengah laut, sesuai dengan teks Sunarigama tirtha yang diperoleh pad saat upacara melasti merupakan sebagai pembersih kekotoran semesta atau sebagai anugrah dari laut. Tirtha penglukatan dilihat secara etimologi berasal dari kata lukat yang artinya bersih.pengelukatan dalam hal ini berarti membersihkan segala kekotoran yang ada pada manusia atau mikrokosmos. Tirtha pabyakala merupakan tirtha yang diperuntungkan disaat prosesi ritual mecaru atau masegeh. Terakhir tirtha pangentas merupakan bagian dari ritual yang tergolong pitra yajnya, untuk pengabenan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *