Kekuatan Perempuan dalam Mahabaratha

Pengecut terbesar adalah laki-laki yang membangunkan cinta seorang perempuan tanpa bermaksud untuk balas mencintainya”.  (Robert Nesta Marley/Bob Marley)

            Sejarah pemikiran sosial modern telah menempatkan pemikiran berikut kajian perempuan sebagai salah satu yang paling signifikan . Diambil dari data-data antropologis yang mencoba menemukan peran perempuan secara sosial masa pra-sejarah, berlanjut pada data sejarah peran dan pergerakan hak perempuan awal abad modern sampai pada analisis budaya dan komparasi mengenai representasi serta peran perempuan pada masa post-modern. Kajian mengenai perempuan sepanjang pergerakan sejarah selalu dianggap menarik untuk dibedah.

            Wacana kajian perempuan tidak lepas dari perspektif yang disumbangkan oleh Agama, baik dalam pendekatan teologis-skriptual yang bertumpu pada analisis teks-teks suci serta pendekatan sosio-hoistoris. Pendekatan kedua lebih menekankan pada proses perjalanan peran perempuan dalam konteks kehidupan sosial masyarakat Agama. Data yang diambil dapat berupa teks keagamaan atau kitab suci, cerita rakyat yang berkembang pada masa itu, prasasti atau peninggalan sejarah, maupun catatan-catatan perjalanan para petualang atau pedagang.

            Sebagai salah satu kitab keagamaan, Itihasa yang ceritanya tersebar ke berbagai belahan dunia, bahkan telah masuk dalam ranah media sinematik, Mahabaratha salah satunya sebagai epos yang diyakini nilai-nilainya sebagai rujukan juga memuat tentang peran perempuan. Perempuan yang ideal, berbagai intrik yang melibatkan konstelasi peran perempuan dan laki-laki sampai peristiwa-peristiwa epik yang melibatkan perempuan diramu secara apik berikut samar-samar. Ketiga ihwal tersebut akan penulis uraikan dalam satu rumusan yaitu Kekuatan Perempuan dalam Mahabaratha.

Perempuan Ilahi

            Salah satu pemikiran feminisme yang menganggap ketertindasan perempuan karena faktor ideologis dilatar belakangi oleh faktor religi. Laki-laki dianggap sebagai mahkluk religius dengan berbagai pembenaran ayat-ayat suci. Ihwal ini juga terpatri karena adanya anggapan yaitu perempuan adalah bagian dari salah satu tubuh laki-laki. Sehingga perempuan adalah bagian (sub ordinat) bukan keseluruhan yang utuh dan otonom, tidak seperti laki-laki, dengan kata lain laki-laki suci dan ilahi perempuan profan.

            Mahabaratha menggambarkan sesuatu yang berbeda, seorang Ibu suci yang bersthana di sungai suci, dipuja sebagai seorang Dewi yang penuh berkah dan anugrah. Dewi yang telah melahirkan seorang Ksatria tangguh yaitu Dewa Baratha. Dewi yang suci dengan pengabdian yang teguh. Perempuan juga digambarkan sebagai sosok bernuansa Ilahiah.

Keutamaan Kesucian

Kunti seorang Putri Raja Surasena, Wangsa Yadawa merupakan sosok perempuan panutan yang sangat disegani. Pelayanan yang tulus kepada Pendeta suci kerajaan telah masyur terdengar. Kunti diberikan Anugrah Mantra sakti oleh Rsi Durwasa yang dapat memanggil Dewa dan mendapatkan anugrah. Suatu ketika Kunti melamun menatap cahaya Matahari, kagum atas sinar yang menyilaukan kemudian mengucapkan mantra sakti, datanglah Dewa Surya sembari memberikan hadiah yaitu seorang anak yang Gagah yang keluar dari telinga Kunti, Karna namanya.

Kelahiran Karna atas anugrah dari Dewa Surya mengejutkan Kunti, dia seorang perawan yang belum menikah. Anugrah yang diberikan oleh Dewa Surya terlalu berat bagi seorang perawan yang bahkan belum mengenal cinta, Kunti hanya silau akan kekaguman pada cahaya surya. Kekaguman kepada silau cahaya Matahari berbuah anak laki-laki yang gagah. Seketika itu Kunti memutuskan untuk membuang Anaknya, kesuciannya dipertaruhkan.

Lebih penting dari itu dia seorang perempuan yang suci dan bijaksana, maka memiliki seorang anak sebelum upacara pernikahan adalah sebuah kesalahan besar bagi representasi sosial seorang perempuan yang cukup sempurna ditengah dominasi pemikiran laki-laki. Selain itu tokoh Drupadi yang dilecehkan oleh Duryodana dan Dursasana juga patut di kedepankan. Drupadi yang diseret rambutnya dan coba untuk ditelanjangi oleh Dursasana, berikut dihardik dengan kata-kata pelacur oleh Duryodana menyimpan duka yang dalam. Drupadi telah digerogoti kesuciannya sebagai seorang istri dan menginginkan ritual untuk mengembalikan kesuciannya.

Cinta dan Pengabdian

            Dewi Gandari, Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah ketiga sosok perempuan yang dapat dilabel sebagai perempuan penuh cinta dan teguh dalam pengabdian. Gandari dengan lapang dada mengikuti suaminya Drstaratha (seorang Raja tuna netra), dengan menutup matanya sepanjang hayatnya. Dewi Kunti dengan penuh cinta dan bijaksana mengikuti perjalanan Suaminya bersama istri kedua Dewi Madri.

Setelah kematian Pandu, Kunti juga ikut perjalanan ketiga anaknya dan dua anak Madri dengan tanpa lelah dan penuh petuah kebajikan. Sampai pada waktunya setelah perang Kuruksetra usai, yang dimenangkan Yudisthira, Kunti mengikuti kakak iparnya dan seluruh tetua Hastinapura untuk hidup mengasingkan diri ke Hutan sebagaimana tradisi terdahulu. Dewi Madri dengan perasaan Cinta yang dalam Mengikuti nasib Pandu suaminya, mati melalui tradisi sati. Drupadi dengan penuh pengabdian melayani kelima suaminya, walaupun anggapan masyarakat yang negatif, namun kekuatan Drupadi yang luar biasa dalam pengabdian tercermin dari kesetiaan para suaminya.

Anugrah dan Kutukan

            Anugrah yang diperoleh Dewa Baratha dari Ibunya Dewi Gangga untuk dapat memilih hari kematiannya sendiri merupakan bagian dari perjalanan heorik seorang Ksatria penjaga benteng kerajaan Hastinapura. Kesetiaan terhadap kerajaan, kemampuan dalam senjata , seturut kebijaksanaanya dalam memimpin tidak lepas dari berkat dari Ibu Suci Gangga.

             Dewi Gandari memberikan kekebalan senjata kepada anaknya Duryodana pada akhir perang Kurukstra. Sebuah berkah yang membawa Duryodana pada pertarungan sengit dengan Bhima. Selain Berkat atau anugrah kekuatan perempuan juga bersifat destruktif. Kesedihan yang dialami oleh Gandari akibat kematian seratus anaknya membawanya pada kebencian akut terhadap Krsna yang menurutnya sebagai inisator dan konseptor strategi perang di pihak pandawa. Kuta berupa kehancuran bangsa Yadawa.

            Peremuan sebagaimana juga laki-laki dalam epos Mahabaratha memberikan gambaran yang elegan dan egaliter. Perempuan digambarkan memiliki suami lebih dari satu, suatu konstruksi yang jarang ditemui dalam naskah-naskah kuno, pun dalam cerita rakyat. Perempuan yang bijaksana yang penuh petuah dan ajaran kebenaran serta sangat dihormati anak-anaknya. Perempuan sebagai panutan, pahlawan dan Guru. Kekuatan perempuan yang luar biasa.