Relasi Kuasa dalam Mitos Padi

Setiap komunitas masyarakat memiliki budaya berupa seperangkat pemikiran, tata nilai, dan praktik yang bersumber dari kearifan lokal yang dipegang teguh dan dipercaya untuk mengatur kehidupan keluarga termasuk di dalamnya mengenai peran, posisi, dan kewenangan laki-laki dan perempuan dalam suatu komunitas atau institusi sosial.

Budaya ditempatkan sebagai elemen dasar terpenting dalam pembentukan atribut bagi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Budaya menjadi suatu mediasi kognitif yang memetakan atau standarisasi bahkan identifikasi terhadap eksistensi kedua jenis seks ini.

Dalam masyarakat Hindu Bali, terdapat suatu patokan adat yang mengakar kuat untuk mengatur tatanan keluarga dalam hal ini relasi antara laki-laki dan perempuan dalam suatu konsep Purusa atau sistem kekeluargaan patrilinial yang menarik keturunan dari garis laki-laki, karena hanya laki-laki dianggap mampu melaksankan swadharma keluarga.

Hal ini yang mengakibatkan kelahiran anak laki-laki menjadi hal yang dianggap sangat berharga. Situasi ini mengakibatkan adanya permasalahan sosial yang mendasar yaitu adanya pihak yang berkuasa dan pihak yang dikuasai, adanya pihak yang lemah dan pihak yang kuat, adanya pihak yang mendominasi dan didominasi. P

ihak yang mendominasi dapat dikatakan laki-laki sedangkan pihak yang dikuasai adalah perempuan. Sebagai pihak yang mendominasi terdapat suatu privilise dalam menentukan kerangka budaya yang menjadi kerangka acuan dalam melakukan suatu tindakan dalam lingkup sosial.

Pada titik ini tepat kiranya untuk mengungkapkan gagasan mengenai identitas perempuan berdasarkan atas gender yang bertolak dari konstruksi sosial masyarakat. konstruksi antara pihak yang berada dalam posisi superordinat atau pusat dengan pihak yang diletakkan secara sosial melalui kerangka budaya dalam posisi subordinat atau pinggiran tercermin dari berbagai prilaku sosial masyarakat termasuk di dalamnya mitos.

Salah satu mitos yang menggambarkan secara pengkondisian perempuan sebagai pihak yang didominasi terdapat dalam mitos Dewi Sri atau Dewi Padi. Mitos Dewi Sri merupakan suatu cerita mistik mengenai awal mula munculnya tanaman padi di Bumi.

Keberadaan tokoh Dewi Sri sebagai seorang tokoh utama memberikan gambaran umum bahwa Sang Dewi Sri memiliki daya kuasa, namun bila dilihat dari mitos kemunculan tanaman padi yang digambarkan pada Geguritan Sri Sedana tergambar suatu relasi tidak seimbang. Pada fase ini dapat dikatakan terdapat suatu relasi kekuasaan dalam mitos dewi padi.

Petani membawa bibit padi

Teori Feminisme

Feminisme merupakan sebuah paham atau pergerakan perempuan dalam menentang ketidakadilan baik secara fisik maupun simbolik. Perempuan menurut kaun feminis tidak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki dalam ruang sosial, Suryakusuma menyatakan perempuan dikurung dalam ruang batin ke-ibuan sehingga hanya bertugas di sektor domestik yaitu prihal pemenuhan kebutuhan fisik suami dan anak.

Pandangan ahli di atas menegaskan bahwa seorang perempuan sengaja diberikan label seorang ibu (rumah tangga) yang bertugas dirumah menjaga anak-anak, di lain pihak laki-laki bekerja mencari nafkah di luar rumah. Sehingga perempuan terkurung disektor domestik, dan laki-laki disektor publik.

Menurut Ritzer dan Goodman, dimana wanita tidak berperan disektor publik (bekerja), hal tersebut bukan karena keterbatasan kemampuan atau perhatian mereka tetapi karena ada upaya sengaja untuk mengucilkan mereka.

Lebih lanjut feminisme dapat dipahami sebagai kajian sekaligus metodologi, hal tersebut sesuai dengan gagasan Arivia feminisme bertujuan untuk mengungkapkan dalam realita sosial, budaya, politik dimana terdapat ketimpangan, yaitu ketertindasan perempuan dan stereotip yang tidak benar.

Lantaran feminisme tidak semata-mata dimengerti sebagai teori, cara pandang atau sistem pemikiran, namun feminisme juga dimengerti sebagai sebuah gerakan. Pergerakan penyetaraan hak bagi kaum perempuan sebagaimana hak yang dimiliki laki-laki disegala bidang baik melalui pendidikan, penyebaran isu-isu penyetaraan oleh tokoh-tokoh perempuan.

Menurut Jones (2010:125) tujuan feminisme adalah menunjukan bagaimana penilaian tentang suatu kondisi sosial dimana perempuan menempuh kehidupan mereka untuk merekonstruksi dunia dan menawarkan prospek kebebasan di masa depan. Feminisme tidak sebatas teori tetapi telah bergerak dalam tataran praksis.

Jadi feminisme adalah suatu gagasan, paham dan pergerakan untuk kesetaraan kedudukan perempuan yang tersubordinasi oleh superioritas posisi laki-laki di ranah publik.

Hermeneutika

Hermeneutika berasal dari akar kata herme (yunani) berarti mengatakan sesuatu, dalam bentuk kata kerja (hemneneutien) berarti menafsirkan, dalam bentuk kata benda (hermeneia) berarti interpretasi itu sendiri, sedangkan orang yang menafsirkan disebut hermeneus. Terdapat beberapa tokoh teori hermeneutic anatara lain Gadamer, Dilthey, dan Paul Recoeur.

Teori hermeneutic pada mulanya mempelajari dan menelaah kitab suci sebagai objek utama, dalam perjalanan sejarah dan terkait dengan unsur-unsur tersebut maka kitab sucilah yang paling pokok untuk objek interpretasi, namun perkembangan selanjutnya teks sastra dan teks religi juga menjadi objek interpretasi.

Jadi hermeneutika adalah ilmu penafsiran, untuk lebih jelasnya akan diuraikan beberapa pandangan tentang hermeneutika dari beberapa ahli.

Lontar Bali mengenai Dewi Sri

Mengenai proses penafsiran  dan pemahaman secara tidak langsung terjadi secara bertahap, terjadi secara bolak-balik antara tahap sorotan unsur per unsur dan tahap keseluruhan secara berulang-ulang (struktural) kemudian mencapai keutuhan makna (Schleirmacher dalam Widada, 2009) yang disebut sebagai lingkaran hermeneutik (Teeuw dalam Widada, 2009) Dilthey (dalam Kaelan, 2009) menyatakan sebelum interpretasi yang sesungguhnya dapat dimulai, maka dituntut adanya suatu latar belakang pengetahuan bersifat gramatikal kebahasaan yang bersifat sejarah agar mempunyai alat untuk mempertimbangkan karya.

Lebih lanjut Dilthey (dalam Kaelan, 2009) menjelaskan interpretasi berupa sutatu proses yang melingkar, yaitu setiap bagian suatu karya  dapat ditangkap lewat keseluruhan, dan keseluruhan dapat ditangkap pada bagian-bagiannya.

Konsep Mitos

Kata mitos berasal dari bahasa Yunani muthos yang secara harfiah diartikan sebagai cerita atau sesuatu yang dikatakan seseorang, secara lebih luas  berarti pernyataan, sebuah cerita, ataupun alur suatu drama.

Terkait dengan penulisan ini konsep mitos dimengerti sebagai sebuah cerita yang melibatkan tokoh-tokoh mistik seperti Dewa, Raksasa, guna mengungkapkan kejadian, asal-usul sesuatu hal.

Patung di pura di Bali

Sinopsis Mitos Kemunculan Padi

Sinopsis dalam Penelitian ini diuraikan untuk mengetahui gambaran umum cerita dalam Geguritan Sri Sedana. Secara garis besar cerita dalam Geguritan Sri Sedana mengisahkan prihal mitologi timbulnya tanaman padi.

Cerita dalam Geguritan Sri Sedana  dikatakan sebagai mitologi karena tokoh yang ditampilkan adalah tokoh Dewa-Dewi yang memiliki kekuatan adimanusia berikut dengan setting atau latar cerita dikisahkan di Surga tempat para Dewa-Dewi.

Dalam Geguritan Sri Sedana dikisahkan Dewa Siwa sebagai penguasa alam Surga dan dunia fana, pada suatu hari Dewa Siwa mengadakan pertemuan dengan para Dewa-Dewi untuk menberikan umat manusia hadiah berupa benih yang dapat dimakan, selain dari singkong yang telah menjadi makanan pokok manusia ketika itu.

Selesai pertemuan tersebut Dewa Siwa kemudian melakukan meditasi, tidak berselang lama muncul sebiji bibit berwarna kuning, Dewa Siwa bersabda agar bibit tersebut dibawa ke dunia untuk kesejahteraan umat manusia.

Selesai bersabda berhembus angin kencang yang membawa bibit tersebut jatuh ke Bumi para Dewa mengejar ke arah jatuhnya bibit tersebut, sesampainya di Bumi bibit anugrah Dewa Siwa telah dimakan oleh Naga Anantaboga.

Mengetahui bibit telah dimakan oleh Naga Anantaboga para Dewa meminta agar Naga bersedia mengembalikan biji bibit yang ditujukan untuk kemakmuran umat manusia.

Naga Anantaboga berkenan memuntahkan bibit yang telah ditelan, namun terjadi hal yang tidak terduga dimana biji bibit yang dikeluarkan telah berubah menjadi seorang anak laki-laki dan seorang perempuan.

Kejadian itu kemudian dilaporkan kehadapan Dewa Siwa, tanpa berfikir panjang beliau bersedia mengangkan kedua anak itu menjadi anak angkatnya. Anak laki-laki diberikan nama Dewa Sedana sedangkan anak perempuan bernama Dewi Sri.

Berselang beberapa tahun kedua anak angkat Dewa Siwa telah tumbuh dewasa menjadi laki-laki tamban dan perempuan cantik. Setelah mereka tumbuh remaja diceritakan Dewa Sedana dan Dewi Sri menjalin hubungan asmara yang terlarang, mengetahui hal tersebut Dewa Siwa Murka dan ingin memutuskan jalinan hubungan mereka dengan berbagai cara, ketika tengah malam diceritakan Dewa Sedana dan Dewi Sri ditemukan sedang tidur berdua dalam satu kamar layaknya suami istri, Dewa Siwa kemudian menyeret Dewa Sedanan sampai ke hutan larangan dan memerintahkan Dewa Sedana untuk memutuskan hubungan asmara dengan saudarinya Dewi Sri.

Keinginan Dewa Siwa tidak dituruti oleh anak angkat beliau sehingga menimbulkan kemarahan Dewa Siwa seketika itu Dewa Siwa membakar Dewa Sedana menjadi abu.

Dewa Siwa memerintahkan Dewa Wara dan Wari untuk membuang mayat Dewa Sedana ke bumi yang telah ditutupi oleh peti, dari mulut Dewa Sedana keluarlah burung cetrung, tubuhnya berubah menjadi ular piton, adapun petinya berubah menjadi Belut, Katak dan Siput.

Keesokan paginya ketika Dewi Sri terbangun,Dewi Sri tidak menemukan kakaknya, beliau mencari keseluruh ruangan sampai sore hari kemudian membuat sebuah hiburan dengan melubangi bambu yang dapat berbunyi nyaring ketika tertiup angin yang disebut dengan Sunari.

Melihat Dewi Sri sangat gigih mencari kakaknya, Dewa Wara merasa terharu dan memberitahu bahwa kakaknya telah menjadi abu (mati) dan dibawa ke dunia. Dewi Sri kemudian menghadap Dewa Siwa dan bertanya kenapa membunuh kakaknya dan apa yang menjadi penyebab Dewa Sedana dibunuh, Dewa Siwa kemudian menjawab menjawab prihal terbunuhnya Dewa Sedana karena menjalin hubungan asmara dengan adiknya sendiri.

Mengetahui hal tersebut Dewi Sri meminta Dewa Siwa untuk membunuh juga dirinya karena telah berbuat hal yang sama dengan Dewa Sedana selain dari Dewi Sri sangat mencintai kakaknya. Mendengar perkataan Dewi Sri, Dewa Siwa sangat murka kemudian membakar Dewi Sri dengan matanya dan membuang mayat Dewi sri ke dunia berikut dengan sunari yang telah dibuatnya.

Diceritakan di suatu Desa hidup dua pasangan suami istri yang telah lanjut usia yaitu Kakek Patuk dan Nini Patuk dimana kegiatan hariannya setiap pagi pergi ke hutan mencari singkong dan keladi untuk dimakan. Pada suatu pagi ketika kedua pasangan tua menuju hutan untuk singkong dan keladi mereka melihat mayat Dewi Sedana, kemudian Kakek Patuk dan Nini Patuk membuat lubang untuk menguburkan Dewi Sri sambil Nini Patu membuat upakara untuk upacara kematian Dewi Sri yang sangat sederhana.

Setelah prosesi upacara kematian berlangsung dari kuburan Dewi Sri muncul suatu tanaman yang aneh berwarna hijau mereka sangat terkejut terhadap kejadian tersebut, ketika itu Dewa Siwa muncul dan bersabda kepada Kakek Patuk dan Nini Patuk untuk membuka lahan di suatu tempat yang memiliki curah hujan yang cukup, tempat itu akan menjadi sawah serta memelihara tanaman padi tersebut untuk kesejahteraan keturunannya dikemudian hari.

Persawahan

Sabda Dewa Siwa dilanjutkan dengan menasehati keturunan Kakek Patuk dan Nini Patuh prihal bahayanya menjual atau merusak tanah persawahan karena akan membawa bencana bagi alam serta bagi kehidupan keturunannya dikemudian hari, maka diharuskan tetap melestarikan tanah sawah dan tanah sawah lahan kering selain juga demi kelangsungan hidup dalam hal ini kebertahanan pangan dan kehidupan juga untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan (tradisi) yang telah dilakukan oleh leluhur.

Relasi Kuasa Dalam Mitos Padi

Mitos Padi dalam geguritan Sri Sedana menggunakan tokoh Dewa-Dewi sebagai tokoh utama yang memiliki kekuatan melebihi manusia biasa, menurut Mauss dalam suatu cerita atau mitos Dewa-Dewa selalu memiliki status yang lebih tinggi dari umat manusia, hal ini terjadi karena pemberian Para Dewa begitu berharga sehingga manusia tidak mampu membalas dengan sesuatu yang sepadan.

Terkait dengan pendapat ahli di atas Hicks menjelaskan dalam suatu cerita atau mitos anugrah yang diberikan oleh para Dewa kepada manusia adalah berupa kehidupan, kesuburan dan keberlimpahan.

Ukiran para dewa

Dewa Siwa adalah salah satu tokoh yang terdapat dalam Geguritan Sri Sedana. Setiap tokoh dalam cerita suatu karya sastra menurut Abrams memiliki moralitas, kepribadian dan emosi sehingga dapat melihat karakteristik tokoh-tokoh dalam cerita untuk mengungkapkan relasi antar tokoh laki-laki dan perempuan dalam membongkar kerangka berfikir dan tindakan.

Relasi antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dilepaskan dari gagasan yang ada dibaliknya, yakni ideologi gender, ideologi patriarki dan ideologi seks Ketiga ideologi tersebut membentuk tindakan, perkataan (bahasa), dan segala bentuk realisasi di berbagai media.

Menurut Takwin oleh karena ideologi merupakan salah satu bentuk ketidaksadaran, maka praktiknya dalam diri manusia tidak disadari, ideologi masuk lewat berbagai sumber yang terkait dengan struktur masyarakat. sesuai dengan pandangan tersebut menarik untuk disimpulkan tentang relasi kuasa yang terangkum dalam istilah ideologi dimana menurut Thompson ideologi adalah sistem berfikir, sistem kepercayaan, praktik-praktik simbolik yang berhubungan dengan tindakan sosial dan politik.

Berdasarkan Sinopsis di atas Dewa Siwa menciptakan satu bibit yang kemudian menjadi sepasang anak buncing, bila dikaitkan dengan gagasan Fromm hal ini menunjukan hilangnya peran dasar alamiah perempuan yang digantikan oleh laki-laki yaitu penciptaan lewat pikiran, yang tidak membutuhkan substansi hidup maternal.

Secara hermeneutik bibit merupakan hasil dari pembuahan atau insemenisasi namun dilakukan oleh Dewa Siwa sendiri, sedangkan bibit yang di hembuskan oleh  angin dan dimakan oleh Naga Ananta Boga sebagai pengganti rahim untuk melahirkan, pandangan tersebut sesuai dengan gagasan Dananjaya

Penggantian rahim oleh mantra, Yoga, Api persembahan atau yang lainnya terdapat diberbagai mitos di hampir seluruh kebudayaan di Dunia yang dapat diartikan sebagai kecemburuan laki-laki kepada perempuan karena tidak memiliki fungsi prokreasi atau melahirkan yang dimiliki oleh perempuan.

Peran prokreasi secara alamiah hanya dimiliki oleh perempuan, melahirkan anak, membesarkan anak yang menurut kaum naturalistik disamakan dengan peran bumi (sebagai Ibu), yang dapat menghasilkan tumbuh-tumbuhan dan berbagai hasil tanaman yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Hanya perempuan yang secara alamiah melalui rahimnya melahirkan anak, begitu juga hanya di Bumi, tumbuhan yang penting bagi manusia dapat tumbuh dan berkembang, tegasnya laki-laki cemburu akan peran penting yaitu mencipta.

Bila merujuk pada pandangan tersebut di atas, mulai dari proses penciptaan benih dan pergantian rahim menunjukan secara psikis pengambil alihan peran alamiah perempuan yaitu penciptaan, atau Fromm menyatakan adanya indikasi dari keirihatian laki-laki terhadap perempuan dari perasaan inferioritas karena ketidakmampuannya melahirkan, dan dari hasratnya untuk memperoleh kemampuan ini.

Selain itu tokoh Dewa Siwa sebagai laki-laki dalam relasinya dengan tokoh Dewi Sri sebagai perempuan terdapat suatu gagasan tentang hubungan bertingkat dimana tokoh Dewa Siwa adalah yang tertinggi posisinya atau dominan, hal tersebut terlihat dari episode pemberian wahyu atau biji. Dalam pemberian atau penganugrahan wahyu melibatkan tiga tokoh penting antara lain:

  1. Dewa Siwa yang bertugas memberi wahyu,
  2. Wahyu itu sendiri yaitu berupa biji untuk bibit penjelmaan Dewi Sri,
  3. dan tokoh penerima wahyu, yang diberikan anugrah.

Hubungan ketiga tokoh tersebut terbangun secara vertikal, artinya pihak pemberi anugrah memiliki posisi dengan strata yang lebih tinggi dibandingkan dengan pihak penerima wahyu atau wahyu itu sendiri.

Feminisasi dan Maskulinisasi

Tokoh atau pihak pemberi wahyu dalam (Geguritan Sri Sedana) yaitu Dewa Siwa sebagai pihak yang superior, karena merupakan raja Dewa yang memiliki kuasa. Dewa Siwa sebagai penguasa berhak membuat keputusan mutlak, otoriter, dan harus dianut oleh pihak yang memiliki strata dibawahnya.

Menurut Warren (dalam Suryaningsih, 2013) salah satu karakteristik yang jelas dari karya sastra dengan kerangka pikir patriarki adalah pola pikir yang berdasarkan nilai hierarkis yaitu yang merujuk pada “atas-bawah” yang memberikan nilai, status ataupun prestise yang lebih tinggi terhadap segala sesuatu yang berada di atas.

Tokoh kedua yaitu Dewi Sri yang telah berubah menjadi biji tanaman hijau, dimana tokoh ini posisinya lebih rendah dari pemberi anugrah, menurut analisis Paz Dewi Sri sebagai wahyu atau anugrah berada pada tokoh “ambang” atau diantara dan lebih rendah dari tokoh dominan.

Tokoh yang ketiga adalah penerima wahyu yang menduduki posisi yang paling bawah, karena hanya dapat menerima, namun tidak dalam kondisi subordinasi, karena pihak penerima wahyu adalah orang yang terpilih, khusuk dalam bekerja, mengolah tanah, dan melakukan yajnya.

Sesuai dengan data di atas penerima wahyu merupakan pihak yang rajin dalam mengolah tanah, bahkan sampai pada usia kakek-nenek, selain itu melihat mayat Dewi Sri kakek patuk dan nenek patuk ingin menguburkan serta memberikan suatu upacara yajnya kecil.

Lebih lanjut dalam episode dihukumnya Dewa Sedana dan Dewi Sri karena melakukan hubungan sedarah, bila menitik beratkan pada tokoh Dewa Siwa dan Dewi Sri terdapat kerangka berfikir sebagai berikut dominasi.

Dualisme nilai, misalnya pasangan yang berbeda dipandang sebagai oposisi (dan bukannya melengkapi) dan ekslusif (bukan inklusif), dan yang menempatkan nilai (status dan prestise) kepada salah satu dari suatu pasangan gagasan dari pada yang lain (Warren, dalam Suryaningsih, 2013)

Pendapat ahli di atas menunjukan adanya suatu gagasan dualisme yang mana pihak yang diberikan nilai, status serta prestise yang tinggi kepada apa yang secara historis diidentifikasi sebagai pikiran, nalar, logika adalah laki-laki atau dalam konteks ini adalah Dewa Siwa, sedangkan Dewi Sri (dan juga Dewa Sedana) diidentifikasi secara historis sebagai tubuh, perasaan, dan keterikatan badaniah.

Dewa Siwa dilukiskan sebagai sosok yang menggunakan akal sehat, nalar, melawan Dewi Sri yang menggunakan Perasaan dan keterikatan badaniah, Berdasarkan hal tersebut menarik untuk meminjam gagasan Capra gejala ini bisa dikaitkan dengan dualisme kultural, yakni wanita intuitif, sedangkan pria adalah rasional, maka terdapat sebuah legitimasi oleh Dewa Siwa untuk menghukum Dewi Sri.

Jadi dapat dikatakan Dewa Siwa sebagai pihak laki-laki telah dimaskulinisasi melalui pemikiran yang logis dan kritis sedangkan Dewi Sri merupakan pihak yang diintuitifkan atau difeminimkan.

Jadi tidak salah menurut pandangan Basharat (2009) mitos keagamaan cenderung sangat male-dominated dan tidak memberi penghargaan sama sekali terhadap perempuan.

Kesimpulan

Setelah analisis data pada bab-bab sebelumnya, ada suatu temuan yang menyimpulkan bahwa mitos munculnya padi dengan tokoh Dewi Sri dan Dewa Siwa sebagai tokoh utama memiliki suatu relasi kekuasaan yang timpang dimana terdapat asumsi ideologi gender dan ideologi seks.

Ideologi gender mengungkapkan adanya suatu perbedaan sosial peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial dimana kedudukan laki-laku lebih tinggi dari kehidupan sosial.

Sedangkan ideologi seks mengungkapkan adanya suatu tirani abadi terhadap konstruksi perempuan sebagai mahluk intuitif sedangkan laki-laki sebagai mahluk rasional.

Kehidupan sosial menyediakan sebuah konfigurasi praktik-praktik yang beraneka ragam di berbagai bentuk, baik dongeng, mitos, cerita lisan dan lain sebagainya.

Segala bentuk yang beragam tersebut dapat dibedah dengan berbagai kacamata paradigma ilmu pengetahuan termasuk didalamnya kacamata interpretatif.