Etika Ekologi dalam Hindu

Strategi Pelestarian Alam

Bali adalah salah satu pulau yang dikenal dunia sebagai salah satu tujuan utama wisata di Indonesia, dengan luas wilayah hanya 5.632,86 km², setiap tahunnya Bali dikunjungi jutaan wisatawan mancanegara.

Karena eksotisnya alam dan budaya Bali pada masa lalu tokoh-tokoh dunia memberikan julukan untuk Bali, Nehru perdana mentri India memberikan nama “The Morning of the world” dan Hickman Powel memberi nama “The Paradise Island”, tokoh lain memberi label Morning Island.

Julukan tersebut diberikan karena alam Bali yang masih terjaga pada abad ke 18 Masehi sampai abad ke 19 M, serta kebudayaannya yang begitu kokoh atau mapan. Keadaan alam Bali merupakan faktor penunjang pariwisata dari dahulu hingga kini.

Pura Ulun Danu Bali

Namun, seiring perjalanan waktu, dewasa ini yang disebut dengan era potmodern terdapat degradasi terhadap pemeliharaan alam. Masyarakat Bali mulai mengikuti arus komodifikaksi alam yang merupakan produk barat (dalam istilah E. Said) sehingga konsep-konsep pelestarian alam mulai ditinggalkan.

Kalangan modernis Robertson Smith (1993) mengungkapkan gaya ekssentrik modernitas akan mengikis tradisi dan agama ke ranah sekular, yaitu degradasi nilai-nilai agama dan tradisi karena tidak lagi signifikan dalam kehidupan. Pesimisme Smith mendapatkan perlawanan dikalangan kaum post modernis, namun terdapat beberapa hal yang memang perlu direfleksikan.

Terdapat dua asumsi tentang keberadaan manusia dan kelestarian alam. Ketika populasi manusia masih terbatas, apakah terpikir segala yang tumbuh di atas dan terkandung di dalam bumi, akan habis tuntas.

Melanjutkan pandangan ini maka orang akan bersikap bahwa bumi telah menyediakan segala kebutuhan manusia yang tidak akan habis. Justru pandangan demikian muncul dalam masyarakat modern, yang demikian rakus mengeksploitasi alam untuk keuntungan diri sendiri dan kelompok.

Sebaliknya, masyarakat tradisional yang jumlah mereka masih terbatas menunjukan perilaku yang terkendali, terutama dalam memanfaatkan alam, misalnya para leluhur hanya akan memetik sayur dan buah sesuai kebutuhan, meskipun alam meyediakan begitu banyak yang akan dikonsumsi atau dijual kepada orang lain atau kelompok.

Untuk menjaga sikap dalam melestarikan alam para leluhur kita menciptakan berbagai konsep dan ungkapan-ungkapan verbal yang berlapis-lapis bahkan eksplisist.

Pelestarian Alam (Ekologi) di Masyarakat Hindu Bali

Salah satu konsep yang dimiliki oleh masyarakat Bali memberikan kontribusi dalam pelestarian alam Bali adalah Pen-Dewa-an terhadap unsur-unsur alam. Dilihat dari akar theosentrisnya dalam Isa Upanisad disebutkan:

Isavasyam idam sarvam,
Yat kinca jagatya jagat,
Tena tyakena bhunjitha,
Ma grdhah kasya svid dhanam

Terjemahannya:

Sesungguhnya apa yang ada di duni ini, yang berjiwa ataupun yang tidak berjiwa, dikendalikan oleh Isa (Tuhan), oleh karena itu orang hendaknya menerima apa yang perlu dan diperuntungkan baginya dan tidak menginginkan milik orang lain.

Alam sesuai dengan pandangan Isa Upanisad sepenuhnya dikendalikan oleh Tuhan, karena alam itu sendiri adalah salah satu perwujudan Isa. Adapun konsepsi pen-Dewa-an unsur-unsur alam tersebut dibingkai dalam konsep eko-religiusme, yaitu paham agama yang berbentuk manifestasi Dewa-Dewa Hindu yang mendiami unsur-unsur alam. Jadi menarik untuk diuraiakan bagaimanakah operasional konsep eko-religiusme?

Konsep eko-religiusme yang dipercaya menjadi nilai bagi masyarakat Bali bersifat korelatif dengan pandangan agama Hindu hal ini terlihat dari membaurnya konsep Hindu dengan konsep lokal Bali.

Adapun konsep pelestarian alam berdasarkan local genius masyarakat Bali anatara lain :

Konsep Ekologi Hindu: Segara-Giri

Pura di Tepi Laut

Gunung adalah salah satu tempat yang disucikan oleh masyarakat Bali. Orientasi pemujaan leluhur masyarakat Bali menuju ke arah Gunung.

Catatan Parimartha dkk (2015) menyatakan pandngan ini berakar dari tradisi agraris sebagai sumber air bagi kehidupan pertanian. Analisis dari ahli lain yang lebih purba dijelaskan asumsi Sarkofagus yang menyerupai kura-kura dengan pahatan wajah bermakna bahwa arwah orang yang meninggal akan melewati sungai menuju ke arah gunung karena gunung merupakan tempat bagi para arwah suci leluhur.

Maka dari itu gunung harus dilestarikan, setelah datangnya agama Hindu konsep ini semakin diperkuat dengan penempatan Pura-Pura megah di kompleks pegunungan di Bali, yang seakan-akan Pura yang ada di Gunung mengitari Pulau Bali.

Begitu juga dengan konsep segare atau laut, dimana laut merupakan salah satu tempat suci untuk membersihkan manusia dari segala bentuk kekotoran duniawi.

Ritual-ritual tahunan, isidental, selalu menempatkan laut sebagai tempat untuk penyucian secara batiniah. Upacara melasti, ritual pengayudan mala, selalu berhubungan dengan laut.

Kedatangan Dang Hyang Dwijendra ke Bali memperkuat konsep segara dengan jalan membangun Pura-Pura sepanjang perjalanan Beliau di pinggir laut, seperti di Tanah Lot, Gianyar, Ketewel dan di Karangasem. Maka dari itu pelestarian terhadap laut seiring dengan konsep segara-giri yang telah ada sejah masa pra-sejarah.

Konsep Ekologi Hindu: Boma

Pura di Tengah Hutan Bali

Boma dalam mitologi Hindu dikatakan sebagai hasil dari perkawinan Dewa Wisnu dengan Dewi pertiwi sehingga melahirkan seorang putra berwajah raksasa yang dikenal dengan nama Boma.

Boma seperti yang telah diteliti oleh Krmisch dan Titib merupakan simbol dari pohon-pohonan yang tinggi dan lebat yang mengitari seluruh hutan belantara. Pohon-pohon besar adalah sebagai penjaga kelestarian Hutan, dimana dengan keberadaan pohon besar Hutan menjadi terjaga. Maka dari itu secara etik Boma adalah lambang penjaga Hutan.

Konsep wong samar

Masyarakat Bali tidak asing dengan adanya mahluk halus penjaga tebing-tebing curam, daerah sungai kecil, dan pohon-pohon besar. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia Bali tidak boleh mengganggu mahluk tersebut yang mendiami tebing curam dan daerah sungai kecil. Konsep ini murni milik masyarakat Bali.

Konsep EkonologI Hindu: Tri Danau

Pura di Pinggir Danau Bali

Konsep tri danau yaitu tiga danau yang disucikan yaitu Danau Buyan, Danau Beratan dan Danau Tamblingan diteliti oleh Ida Bagus Dharmika, Ida Bagus Gde Yudha Triguna, dan Ida Bagus Agastia yang merupakan tim Dosen dari Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

Konsep tri danau tersebut menjadi bahan kajian alamiah untuk pelestarian alam di Bali. Bali sangat terkenal dengan alamnya yang eksotik maka, Danau adalah salah satu unsur alam yang harus dilestarikan. Tri Danau tersebut adalah tempat bagi pemujaan Dewa Baruna yang juga penguasa laut.

Konsep Ekologi Hindu: Perkawinan kosmik

Konsep perkawinan kosmik atau perkawinan alam ini bersifat siwaistik. Dimana Dewa Siwa sebagai penjaga alam memiliki empat orang istri anatara lain Dewi Parwati sebagai simbol Gunung, Dewi Gangga sebagai simbol Sungai, Dewi Gauri sebagai simbol hutan, Dewi Uma sebagai simbol kematian.

Konsep ini memberikan pesan berupa pelestarian Gunung, sungai, hutan dan adanya regenerasi sebagai sebuah keniscayaan dan harus terus dilakukan untuk menjaga keseimbangan sebuah wilayah. Dengan gunung, sungai, hutan dan adanya regenerasi maka keseimbangan suatu wilayah terjaga dan kehidupan manusia yang ada disekitarnya lebih sehat.

Keberadaan alam lingkungan dengan eksistensi manusia bersifat simbiosis mutualisme, hal ini bukanlah sebuah asumsi tanpa dasar, namun telah ada jutaan penelitian yang menyatakan adanya orientasi bahwa kelestarian alam yang berkesinambungan menemui benang merahnya dengan kesejahteraan manusia.