SEKILAS PURANA

Purana dapat berarti kuno, tua atau lampau, kata ini dimaksudkan sebagai nama jenis buku yang berisikan cerita dan keterangan mengenai tradisitradisi yang berlaku pada jaman dahulu. Kitab Purana menduduki posisi penting dan strategis dalam tata urutan Weda yaitu kitab suci Agama Hindu dan susastra Hindu. Sebagaimana diketahui dan diajarkan secara formal, Weda tidak hanya termasuk kitab-kitab Catur Weda seperti Rg Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwaweda, menurut Titib (2004:1) disamping kitab-kitab tersebut masih terdapat lagi sumber ajaran agama Hindu yaitu kitab-kitab Itihasa, Purana, Dharmasastra, Akhyana dan Darsana yang tersusun dalam kurun waktu yang lama dan diwarisi oleh umat Hindu. Sudirga, dkk (2013: 73) memposisikan Purana sebagai salah satu bagain dari Upaveda, yang berarti kitab yang dekat atau ada disekitaran Kitab suci Weda. Purana sesuai dengan gagasan di atas merupakan kitab-kitab yang juga mengandung ajaran-ajaran Weda sebagai sumber utama bagi pemahaman prihal agama Hindu.

Kitab-kitab Purana memberikan informasi tentang istadewata yakni Dewata yang tertinggi yang dipuja yang menjadi fokus kebakthian (Titib, 2004:6). Singh (2007:4) menyatakan pada abad ke-4 atau ke-5 Sebelum Masehi terdapat usaha untuk menciptakan jenis penyusunan mitos atau legenda khususnya mengenai Dewa-Dewi dalam agama Hindu, kemudian cerita itu dikumpulkan dalam Purana dan mengandung pengetahuan tentang para Dewa. Kitab-kitab Purana yang berbentuk cerita memberikan suatu pemahaman teologis dalam agama Hindu, yang mana dalam kepercayaan Hindu yang monotheistik namun manifestasi pemujaannya berbentuk polytheistik, sehingga dikenal dalam pemujaanya dengan dengan banyak Dewa. Menurut Titib (2004:6) dalam kitab Purana secara garis besar dibedakan menjadi, Purana Brahma atau Brahmanapaksa, Purana Wisnu atau Waisnawapaksa, kitab Purana Siwa atau Saiwapaksa dan kelompok sakti yaitu Saktapaksa. Teologi Hindu mengkonfigurasi ketiga Dewa yang dijelaskan di atas yaitu Brahma, Wisnu, Siwa adalah Dewa Tri Murti dengan kemahakuasaan tersendiri. Dilihat dari garis besarnya menurut para ahli Purana memuat cerita-cerita tradisional yang dikelompokan menjadi lima: 1) tentang kosmogoni atau mengenai penciptaan alam semesta, 2) tentang pralaya atau hari kiamat, 3) tenang silsilah raja-raja atau dinasti raja-raja Hindu yang terkenal, 4) tentang masa manuatau manwantara, 5) tentang sejarah perkembangan dinasti Surya wangsa dan Chandra wangsa. Dicermati dari sumber skriptualnya kelima kelompok tersebut terumus dalam wisnu purana II.6.24 menyatakan, Sagrasca pratisargasca wamso manwantarani ca, sarweswetesu kathyante wamsan ucaritam ca yat. Menurut catatan yang dapat dikumpulkan oleh para ahli, pada mulanya terdapat 18 kitab Purana, yaitu masing-masing:

  1. Brahmanda Purana
  2. Brahmawaiwarta Purana
  3. Markandeya Purana
  4. Bhawisya Purana
  5. Wamana Purana
  6. Brahma Purana atau adhi Purana
  7. Wisnu Purana
  8. Narada Purana
  9. Bhagawata Purana
  10. Garuda Purana
  11. Padma Purana
  12. Waraha Purana
  13. Matysa Purana
  14. Karma Purana
  15. Lingga Purana
  16. Siwa Purana
  17. Skanda Purana
  18. Agini Purana

Selanjutnya di Bali juga memiliki sejenis Purana yang dinamakan dengan Raja Purana. Kitab raja purana di Bali berisikan banyak catatan mengenai silsilah raja-raja yang pernah memerintah di Bali dan berhubungan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Delapan belas purana tersebut dikelompokkan kedalam tiga madzab dalam agama Hindu yang dikenal dengan Dewa Tri Murti. Adapun ketiga kelompok tersebut yaitu: kelompok Satwika (Purana Waisnawa) : kelompok kitab ini diwakili oleh enam kitb Purana yaitu wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana dan Waraha Purana. Dewa Wisnu menempati kedudukan tertinggi dalam Kitab ini sebagai perwujudan atau manifestasi Tuhan. Kitab Bhagawatam Purana dijadikan dasar terutama bagi kelompok gerakan Harekrsna karena di dalam kitab ini diceritakan riwayat panjang Sri Krsna.

  1. kelompok Satwika (Purana Waisnawa)

kelompok kitab ini diwakili oleh enam kitb Purana yaitu wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana dan Waraha Purana. Dewa Wisnu menempati kedudukan tertinggi dalam Kitab ini sebagai perwujudan atau manifestasi Tuhan. Kitab Bhagawatam Purana dijadikan dasar terutama bagi kelompok gerakan Harekrsna karena di dalam kitab ini diceritakan riwayat panjang Sri Krsna.

2. Kelompok Rajasika (Purana Brahmaisme)

menjadikan Brahma sebagai Dewa yang paling utama, angtergolong kitab ini terdiri atas enam buah kitab Purana anatara lain, Brahmanda Purana, Brahmawaiwarta Purana, Markandeya Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana dan Brahma Purana.

3. Kelompok Tamasa (Purana Saiwaisme)

kelompok yang ketiga ini terdiri atas enam buah kitab Purana yaitu: Matsya Purana, Kurma Purana,  Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana, dan Agni Purana. Kitab ini memuat penjelasan Dewa Siwa dengan segala awataranya disamping terdapat juga Dewa Wisnu dengan awataranya. Mastya Purana membahas tentang berbagai macam upacara atau ritual keagamaan, tentang filsafat dan banyak cerita mengenai sejarah, silsilah para maha rsi dan dewa-dewa. Kitab ini juga terdapat keterangan  berbagai jenis bangunan suci, cara membuatnya dan sedikit tentang watsu sastra.

Agni Purana merupakan Purana terbesar digolongkan kedalam Tamasa Purana dikenal dengan maha purana. Nama ini menujukan akan kebesaran Agni Purana disamping matsya purana. Berdasarkan atas beberapa catatan yang diketahui Agni Purana terbagi atas tiga kelompok, yaitu: a) sawarahasya-kanda, b) yang kedua merupakan waisnawa purana dan sebagai pelengkap pada waisnawa pancarata membahas mengenai wedanta dan gita, c) ketiga saigwamsa memuat beberapa ajaran pokok ajaran mengenai ritual menurut tantrayana. Agni purana ditulis oleh bhagawan wasistha. Dalam agni purana terdapat keterangan mengenai ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua macam, pertama para widya ialah pengetahuan mengenai masalah Ketuhanan yang dinyatakan sebagai pengetahuan tertinggi, kedua apara widya yaitu pengetahuan duniawi. Agni purana juga memuat tentang ikonografi Hindu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *