SIGNIFIKANSI REVITALISASI MAKNA TUMPEK LANDEP

Setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep diperingatai sebagai Tumpek Landep bagi masyarakat Hindu di Bali. Diperingati setiap enam bulan sekali sesuai kalender saka atau 210 hari sekali tepatnya satu kali perputaran wuku yang jumlahnya 30 wuku, dan landep adalah wuku kedua setelah wuku sinta. Merujuk pada teks Sundarigama tumpek landep merupakan pujawali Bhatara Siwa dalam aspeknya sebagai Sang Hyang Pasupati penguasa alam dengan tujuan memohon ketajaman pikiran (sesuai difinisi landep yaitu lancip) dan proses upacara dan upakara ditujukan di Kamulan. Faktual dimasyarakat upacara tumpek landep lebih dikenal odalan besi, karena terkonsentrasi kepada berbagai benda yang terbuat dari besi, seperti benda pusaka yaitu keris, pedang dan berbagai benda yang dipakai dalam keseharian yang membantu kerja manusia misalnya motor, koputer, pisau.

Pemandangan tersebut menjadikan tumpek landep seringkali menerima arti peyoratif, yang bernuansa material atau bahkan paganistik sebagai harinya besi atau otonan motor. Pemaknaan tersebut tidak dapat disangkal, benda pusaka maupun benda yang memudahkan kehidupan manusia diberikan porsi utama dalam pelaksanaan upacara tumpek landep atau peletakan upakara yang telah dijabarkan dalan pustaka Sundarigama, sehingga sejauh konsumsi mata memandang implus-implus tersebut membuat terbentuknya makna sebagai harinya besi atau otonan motor. Pemaknaan tersebut karena adanya kecenderungan pengamalan beragama terpojok pada aspek-aspek ritual, aspek ekstrinsik yang terlihat megah namun seringkali melupakan aspek intrinsiknya. Dewasa ini, telah ada kampaye yang dilakukan dari berbagai kalangan untuk melakukan pengisian ulang makna dan membawa makna tekstual dalam pustaka Sundarigama ke tengah kehidupan masyarakat.

Upaya mengedepankan makna tekstual selain untuk menangkal penghayatan yang dangkal dalam kehidupan beragama (bernuansa material) yang sakral juga merupakan upaya politis untuk menguatkan kembali nilai-nilai religius dalam norma sosial yang aktual dengan kehidupan masyarakat. Agama diharapkan memberikan sumbangsih dalam kehidupan masyarakat baik dalam pengauatan konsensus maupun menumbuhkembangkan sikap-sikap yang dibutuhkan dalam konteks sosial. Ditengah masyarakat yang terkurung dalam berbagai rasionalitas, agama berdiri menjadi salah satu refrensi dalam menyediakan berbagai perspektif penyelesaian maslah kehidupan. Karena sebagaimana pandangan Hall (1985) tidak semua masalah yang ada dalam kehidupan manusia dapat diukur dan diselesaikan dengan akal. Agama yang menyediakan hubungan transendental melalui upacara atau pemujaan mampu memberikan dasar emosional bagi rasa aman serta identitas kelompok yang kuat. Dalam pengertian lain agama memberikan makna yang signifikan dalam menjalani kehidupan sebagai perintah Tuhan yang wajib dijpatuhi untuk kehidupan yang suci di masyarakat.

Makna memiliki sifat produktif dan terbuka, makna bersifat terbuka karena ketergantungan tidak terpusat tetapi menyebar, pemaknaan dapat tergantung pada si pemberi makna dengan berbagai latar belakang yang dimiliki, makna juga tergantung pada konteks (gerak sejarah) dan kepentingan, karena makna aktual dari suatu teks sosial dalam hal ini tumpek landep tergantung pada yang memberi makna dengan gajala-gejala yang melekat padanya. Konsekuensinya makna bersifat produktif selalu dapat diperbaharui, diremajakan atau direvitalisasi namun, harus diingat makna yang aktual adalah yang menyebar dimasyarakat bukan makna pada pustaka atau teks, karena masyarakat merupakan letak dari praktis kehidupan sedangkan teks atau pustaka hanya suatu ide. Ide harus dipraktiskan, disinilah signifikansi revitalisasi makna mendapatkan akar aksiologisnya, tumpek landep tidak hanya sebagai hari teknologi yang membantu kehidupan manusia namun hari dimana pikiran sebagai tonggak perubahan dapat menciptakan kehidupan yang layak dan harmonis dengan alam sesuai dengan pusat pemujaannya dihaturkan kepada Sang Hyang Pasupati penguasa alam.

Disetiap perayaan hari suci keagamaan diharapkan memberikan petunjuk, arahan, dan penerangan untuk kehidupan manusia dan lingkungannya lebih baik, karena manusia sebagai subjek dapat mengelola alam lingkungan menjadi lebih baik. Mentransfer ide dalam pustaka Suci harus dilakukan secara menyeluruh baik formal maupun informal untuk meraih hasil yang maksimal untuk kehidupan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *