PENJOR GALUNGAN

Dari Daya Religius-Magis ke Daya Estetis

Setiap memperingati hari raya galungan masyarakat Hindu selalu menancapkan penjor, hal tersebut tersurat dalam lontar Sunarigama dan Aji Jaya Kesunu sebagai ciri khas hari raya galungan yang apabila tidak dilakukan akan mendapatkan mara bahaya. Penjor selalu menghiasi setiap pintu masuk perumahan masyarakat Hindu pada saat hari raya galungan utamanya di Bali, hiasan upakara penjor menjadi pemandangan di jalan apabila melewati perumahan warga yang beragama Hindu. Penjor juga menjadi ciri adanya suatu yadnya bila tidak bertepatan pada hari raya galungan, yadnya yang dimaksud diistilahkan dengan nangun yadnya atau membangun yadnya yaitu upacara Dewa yadnya, manusa yadnya atau Rsi yadnya. Upacara ngodalin, upacara ngenteg linggih, upacara pawiwahan serta upacara padiksan, keberadaan penjor menjadi upakara yang dapat dinikmati keindahannya, namun apabila penjor yadnya hanya merupakan penjor hias, penjor Galungan adalah penjor upakara yang merupakan bagian integratif dari hari galungan yang memiliki batas-batas yang jelas seperti bagian-bagian yang harus terdapat pada penjor galungan tidak harus ada pada penjor hiasan.

Penjor Sebagai Simbol Religius-Magis

Keberadaan penjor dalam konteks upacara Hindu serta hari raya galungan tidak hanya sebagai suatu upakara wajib, namun menurut lontar Jaya Kesunu, serta kajian para ahli dibidang keagamaan penjor sebagai sebuah upakara merupakan suatu nisaya atau simbol. Manusia merupakan mahluk yang selalu menggunakan simbol disetiap kegiatan atau oleh Cassier disebut animal simbolicum, terlebih dalam kegiatan atau ritual keagamaan, masyarakat Hindu selalu dipenuhi dengan simbol-simbol. Simbol tidak sebatas pada dunia fisik atau benda melainkan bagian dari dunia makna manusia. Simbol suatu ide (atau pengertian akali) adalah suatu pembayangan objek menurut analogi atau menurut tata hubungan yang berlaku bagi objek dalam dirinya sendiri meskipun objek-objek itu sendiri jenis yang berlainan (Dibyasuharda, 1990). Jadi dapat dikatakan simbol memiliki dimensi imanen (berakar dalam akal manusia) dan transenden (objek diluar manusia).

Sebagai simbol, penjor memiliki tata hubungan yang terkait dengan kepercayaan terhadap sesuatu hal yang ada di alam kongnitif manusia seperti terhadap ajaran agama, nilai-nilai budaya, etika ataupun hal-hal yang dianggap menakjubkan, mengerikan melalui objek yang sama sekali berbeda. Penjor merupakan simbol Gunung Menurut Lontar Aji Jaya Kesunu, segaris dengan itu dalam Lontar Dharma Sunia dinyatakan Bhuana agung atau alam semesta adalah perwujudan nyata dari Tuhan yang Gaib, ringkasanya adalah Gunung, ringkasanya adalah meru, ringkasanya adalah manusia. Wiana (2009) menyimpulkan Gunung adalah lambang alam semesta tempat manusia memperoleh kesejahteraan hidup melalui anugrah Tuhan. Alam semesta adalah tempat manusia memperoleh subsistensi, ber-reproduksi mempertahankan spesiesnya, serta meningkatkan derajat hidupnya. Subsesitensi yang merupakan kebutuhan primer manusia sekaligus isi alam semesta atau gunung dapat dibayangkan melalui keberadaan bahan pelengkap penjor anatara lain pala bungkah (umbi-umbian), pala gantung (buah-buahan), pala wija (biji-bijian) dan plawa (daun-daunan). Selain itu penjor juga dihiasi sampean dan tulisam Om Kara di secarik kertas putih sebagai bayangan Tuhan yang maha Gaib.

Dimensi imanen pada simbol penjor apakah itu nilai-nilai budaya (kesejahteraan hidup), serta kepercayaan agama (keberadaan Tuhan yang menciptakan Gunung) terapresiasikan secara fisik melalui dimensi transenden yaitu kelapa, padi, daun-daunan, buah-buahan serta umbi-umbuan, relasi atau tata hubungan antara kedua dimensi tersebut tercipta dalam suatu ruang tertentu atau kontekstual yaitu dalam konteks Hindu. Pandangan tersebut menegaskan simbol bersifat psikologis-ekspresif bukan bersifat fisik, terdapat suatu kepercayaan terhadap Yang Gaib yang merupakan penyebab yang berkedudukan lebih tinggi dari manusia, sehingga apresiasi berupa wujud terima kasih atas kesejahteraan manusia dianalogikan dengan penjor. Jadi formula berupa sebiji bambu yang melengkung, hiasan janur dan daun-daunan, biji-bijian, buah-buahan serta umbi-umbian merupakan konfigurasi makna, yaitu rasa terima kasih manusia kepada Tuhan karena telah diberikan kesejahteraan hidup melalui berbagai isi alam semesta yang bersumber dari gunung. Sampai kini penjor masih tetap ada pada ruang kepercayaan masyarakat Hindu. Simbol hanya dapat eksis selama mengandung arti bagi kelompok manusia yang besar sebagai sesuatu yang mengandung milik bersama sehingga simbol menjadi simbol sosial yang hidup dan pengaruhnya menghidupkan (Triguna, 2011). Singkatnya penjor memiliki daya simbol yang terkait dengan nilai-nilai agama dan budaya yang dimiliki bersama oleh masyarakatnya.

Daya Simbol Religius-Magis ke Daya Estetis

Penjor yang merupakan simbol keagamaan atau membentuk identitas sosial dan individual dalam perkembangan dewasa ini telah mengalami pemaknaan ulang oleh masyarakatnya. Redefinisi terjadi akibat perubahan struktural masyarakatnya dimana peran sentral agen-agen tradisional dalam melakukan definisi terhadap produk-produk politik budaya dan agama yang dihasilkan kian melemah. Peran orang tua, pemuka agama, serta Guru dalam melakukan sosialisasi, latensi serta pemaknaan terhadap tradisi mulai digugat dan digeser oleh Pasar yaitu melalui televisi, majalah, Mall atau pusat perbelanjaan yang lebih mementingkan kemasan daripada substansi, sehingga secara semiotik terjadi pergeseran daya penjor dari daya simbolis yang mengutamakan substansi ke daya estetis yang mengutamakan kemasan sehingga layak dikonsumsi sebagai tontonan dengan kemasan yang indah jadi yang dikonsumsi adalah kemasanya bukan substansinya. Daya simbolis mengutamakan pemaknaan secara tradisional dalam pengertian mementingkan substansi sedangkan daya estetis lebih menonjolkan pada penampilan yang dapat menimbulkan rasa indah kagum tanpa memandang subtansi, yang penting terlihat indah, menarik berbeda tanpa memandang penjor adalah sebuah simbol keagamaan.

Terdapat fenomena penjor yang tidak menggantungkan padi, buah-buahan, serta umbi-umbian yang secara tradisional merupakan bagian integratif dari penjor galungan, namun diberikan berbagai hiasan yang ditempelkan pada sebiji bambu yang lengkung sehingga terlihat begitu mewah dan indah. Keutamaanya adalah bagaimana membentuk penjor terlihat indah dan mewah dapat menjadi tontonan dengan mengutamakan penampilanisme. Pergeseran pemaknaan dapat terjadi karena penjor kini tidak hanya menjadi pembentuk identitas agama namun juga identitas sosial dan ekonomi pemilik penjor, semakin indah dan mewah dengan hiasan yang macam-macam suatu penjor maka penjor tersebut dimiliki oleh masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang tinggi begitu juga sebaliknya. Dalam logika kalangan elit menengah ke atas mengkonsumsi kemasan atau bentuk luar adalah cara pencarian identitas individu dengan meminjam budaya dari luar. Proses interaksionisme atau pematangan kelas kelompok dan pemisahan terhadap kelompok lain memerlukan kebutuhan terhadap simbol identitas baru untuk mematenkan dan memisahkan diri dengan kelas yang lainnya. Dalam hal ini penjor dibuat seindah dan semewah mungkin berisi lampu kelap-kelip bagaikan pohon natal guna melakukan interaksi terhadap kelompok lain diluar kelompoknya, dan membentuk identitas kelompoknya karena pembentukan identitas kelompok tertentu hanya terjadi pada interaksi melalui simbol-simbol. Hal tersebut juga memperlihatkan proses mimikri atau peniruan terhadap budaya luar.

Rekomendasi

Pergeseran pemaknaan telah menggeser kekuatan penjor galungan dari daya simbolis yang terkait dengan mitos, kepercayaan serta keimanan ke daya estetis yang lebih mengutamakan bagaimana membentuk keindahan, kemewahan, dalam menunjukan identitas soiso-ekonomi. Diperlukan suatu gerakan progresif dalam mengembalikan penjor sebagai simbol keagaamaan tanpa menghilangkan unsur kreativitas yang telah melekat dalam ras masyarakat Bali oleh kaum elit yang duduk dilembaga agama melalui suatu generalisasi unsur-unsur pokok yang harus ada dalam penjor. Adapun unsur-unsur tambahan berupa hiasan perlu dikaji secara akademis agar tidak keluar dari konteks pemaknaan tradisional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *