Fenomena Tahun Baru Menurut Hindu

Pseudo spiritual dan ekstasi media

Malam pergantian tahun sebut saja malam hari tanggal 31 januari adalah malam yang paling digandrungi oleh setiapmasyarakat dari berbagai usia dan latar belakang mungkin yang paling bisa dikedepankan adalah remaja di hampir seluruh dunia.

Berbagai acara perayaan yang gegap gempita dirayakan, kalau mengambil jarak yang dekat lihat saja sekaa muda-mudi di Bali yang merayakannya dengan berbagai acara, yang paling umum adalah makan bersama dengan mitra musik dari berbagai genre, yang paling populer mungkin dangdut, karena dangdut mengandut daya persuasif yang membuat badan dapat bergoyang riang.

Selain itu yang secara luas dan umum ditemui adalah yang dinyanyikan oleh katty pary yaitu firework (kembang api). Kembang api sesuai dengan penelusuran wikipedia berasal dari Negara Cina ntuk menakut-nakuti roh jahat, sebagai perkembangan dari penemuan lainnya yaitu bubuk mesiu. Perayaan dan festival seperti Tahun Baru Imlek dan Festival Bulan pada pertengahan musim gugur masih dilengkapi dengan kembang api.

Cina adalah penghasil dan pengekspor kembang api terbesar di dunia. Selanjutnya, pengetahuan kembang api mulai menyebar di kawasan Barat. Banyak pihak percaya bahwa Marco Polo merupakan salah satu orang yang pernah ke China dan membawa penemuan ini ke kawasan Timur Tengah. Selanjutnya, Tentara Salib Eropa membawa penemuan ke Inggris. Sampai saat ini kembang api merupakan upakara rutin dalam perayaan Tahun Baru.

Kembang Api Tahun Baru

Selain itu memang Tahun baru merupakan sebuah komoditas yang disosialisasikan oleh media dengan begitu gencar. Media baik cetak maupun elektronik, terutama elektronik yang mempunyai daya pengaruh, daya manipulasi yang hebat dapat memasukan persepsi terhadap Tahun baru begitu istimewa sehingga harus dirayakan secara besar-besaran.

Acara-acara yang ditayangkan oleh media sebagai hiburan bertahun baru menunjukan media begitu menspesialkan Tahun Baru. Perayaan tahun baru yang oleh media diwacanakan begitu istimewa sehingga harus ada ritual yang begitu spesial seakan Tahun Baru merupakan puncak kesenangan atau ekstasi.

Ekstasi media ini yang sebagai komunikan diterima secara terbuka oleh publik yang memang memerlukan suatu perayaan atau yang dikatakan Durkheim sebagai merefresing persekutuan atau komitmen moral dari kelompoknya yang dalam hal ini adalah keluarga, atau masyarakat desa.

Tahun baru adalah ajang berkumpul yang dulunya mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing, sehingga memerlukan waktu untuk berkumpul bersama memastikan komitmen kebersamaan, kekeluargaan tetap berlangsung. Hal ini membuat Tahun baru menjadi ekstasi publik.

Masyarakat menyambut baik gagasan media bahwa Tahun baru adalah hari spesial yang harus dirayakan secara besar-besaran dengan berbagai kegiatan yang pada hari-hari biasa tidak dilakukan.

Jadi hal itu bertautan dengan pandangan Weber tentang agama atau hari raya yaitu sebagai pangikat ikatan sosial dan oleh Marx sebagai Candu bagi masyarakat, sehingga masyarakat menjadi ketagihan untuk mengulanginya.

Ekstasi publik dapat ditunjukan dengan berbagai cara yang menurut anggapan polisi moral ada yang positif atau ada yang negatif. Ekstasi yang dikatakan negatif adalah dengan mabuk-mabukan, begadang sepanjang malam sambil menyetel musik dengan volume maksimum.

Media yang menurut Berger sebagai medium sosialisasi yang sangat berpengaruh di jaman terkomputerisasi ini merupakan sarana yang sangat ampuh dalam menciptakan wacana bagi publik, media berperan sentral dan sangat kuat, bahkan mengalahkan pemerintahan.

Publik adalah sasaran media karena publik menyimpan hasrat yang harus dipenuhi disalurkan direkonstruksi secara berulang-ulang dan media adalah salah satu sarana yang sanggup memenuhi itu.

Tahun Baru: Antara pseudo spiritual dan spiritiulitas

Hindu Bali dalam perayaan pergantian tahun baru saka sangat bertolak belakang dengan perayaan tahun baru masehi. Tahun baru saka dirayakan dengan ritual sepi, sipeng secara Holistik, atau dikonklusikan sebagai mulat sarira, kontemplasi diri.

Amuter tutur pinahayu memutar kesadaran sehingga mendapatkan kerahayuan, tidak ada kembang api yang dapat mengejutkan 1 (satu) juta lebih burung geraja di inggris sehingga harus tergeletak dijalanan. Tidak ada aktivitas kerja, tidak ada aktivitas hiburan, bepergian dan berapi-api. Diam hening.

Hampir seluruh perayaan hari raya Hindu yang begitu memuja keheningan seperti halnya juga agama Budha. Meditasi adalah latar dari kedua agama ini disetiap hari rayanya.

Spiritualitas dimaksudkan disini adalah mencari spirit daya hidup yang dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda dan menurut hindu salah satunya adalah dengan kontemplasi, perenungan diri sedalam-dalamnya. S

pirit dicari dalam keheningan sehingga hening sangat bernilai sakral, tanpa perdebatan tentang dualisme antagonis; apakah baik dan buruk, jahat dan baik, hitam dan putih kotor dan bersih laki-laki perempuan.

Upacara Hindu Bali

Ekstatsi yang dicita-citakan oleh Hindu adalah ekstasi penyatuan dengan sangkan paran, yang merupakan sumber atau spirit itu sendiri. Ekstati yang diperoleh dengan menanggalkan berbagai macam kesenangan dan benda-benda duniawi, ekstasi yang melebur diri dalam sadhana hening dan hanya terfokus pada spirit atau daya hidup dengan aneka imitasi wujud yang diciptakan oleh manusia.

Esktasi reflektif  itu istilah yang saya gunakan. Jadi ekstasi dalam hindu bukan meluapkan kesenangan dengan berbagai benda materi yang mengkodekan perayaan namun menanggalkan kesenangan, menghisap sedalam-dalamnya kemudian mengurungnya dalam diri sehingga tidak menunjukannya keluar, kemudian terfokus dengan satu titik.

Hal ini sesuai dengan ajaran astangga yoga yang berhasil dirumuskan dari kitab patanjali yoga sutra dimana panca yama dan nyama brata menjadi dasarnya. Kemudian dilanjtkan dengan pratyhara, dharana, dhyana dan puncak dari ekstasi adalah samadhi. E

kstasi samadhi dapat dipusatkan dengan satun titik, baik itu patung Dewa-dewi Hindu, Gambar, maupun cahaya. Ekstasi ini adalah ekstasi spiritualitas, dan sesuai dengan pandangan Piliang esktasi Tahun baru adalah ekstasi pseudo spiritualitas. Komparasi ini tidak bermaksud membedakan secara dualistik namun hanya pengungkapan fenomena dengan persfektif Hindu.