Gambar persawahan Subak Bali

Subak: Pengertian, Sistem dan Fungsi Subak di Bali

Subak adalah satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO pada tahun 2012 lalu setelah perjuangan sejak tahun 2008. Dalam situs resminya, UNESCO memuji subak sebagai:

“…praktik pertanian demokratis dan egaliter yang telah memungkinkan orang Bali menjadi petani padi paling produktif di nusantara meskipun ada tantangan untuk mendukung populasi yang padat.

WHC. UNESCO

Pengertian Subak

Gambar Subak dan Persawahan di Bali

Saat ini, kata “Subak” sering digunakan untuk menyebut area persawahan terasering yang terdapat di beberapa desa di Jatiluwih dan Pupuan, Bali.

Namun, tidak semua orang tahu bahwa “Subak” sendiri sebenarnya merupakan sebutan untuk organisasi kemasyarakatan yang mengatur sistem irigasi di sawah-sawah tersebut.

Arti Kata Subak

Dalam Prasasti Raja Purana Klungkung (Tahun 994 Saka / 1072 Masehi), terdapat kata “kasuwakara” yang diduga berasal dari kata “suwak“, kata ini kemudian berkembang menjadi “subak“.

Kata “suwak” sendiri, terdiri atas atas dua suku kata yaitu “su” yang berarti baik dan “wak” yang memiliki arti pembicaraan. Sehingga “suwak” atau Subak sendiri bisa diartikan sebagai “melakukan pembicaraan dengan niat baik untuk kepentingan bersama.

Sejarah Subak di Bali

Keterangan tertulis paling awal mengenai praktik bertani masyarakat Bali terdapat pada Prasasti Sukawarna (Tahun 882 Saka / 960 Masehi).

Dalam prasasti ini terdapat kata ‘huma‘, yang pada masa itu digunakan untuk menyebutkan ladang yang berpindah-pindah. Kemudian dalam Prasasti Trunyan (Tahun 891 Saka / 969 Masehi), terdapat kata ‘serdanu‘ yang memiliki arti kepala urusan air danau.

Sementara dalam Prasasti Bebetin (Tahun 896 Saka / 974 Masehi) dan Prasasti Batuan (Tahun 1022 Saka / 1100 Masehi), dijelaskan mengenai kelompok pekerja khusus di persawahan Bali yang memiliki keahlian dalam membuat terowongan air.

Dalam lontar Markandeya Purana, yang berisikan tentang awal mula Desa dan Pura Besakih terdapat cerita tentang persawahan, irigasi dan subak. Ini mengindikasikan bahwa sistem Subak sudah ada di Bali bahkan sebelum Pura Besakih dibangun pada awal abad kesebelas.

Ini juga diperkuat dengan bukti-bukti peninggalan arkeologis lainnya yang menunjukan bahwa masyarakat Bali sudah mengenal bentuk cara mengelola irigasi persawahan pada sekitar abad kesepuluh.

Fungsi Subak

Subak memiliki fungsi sebagai sebuah wadah untuk masyarakat agraris Bali melakukan gotong royong dalam mengolah lahan untuk kepentingan bersama. Fungsi Subak sendiri bisa dibagi ke dalam dua bagian yaitu:

  • Fungsi Teknis
  • Fungsi Upacara

Fungsi Teknis Subak Bali

Gotong royong anggota Subak

Fungsi teknis utama Subak di Bali adalah menjadi wadah dan sistem untuk pembagian air irigasi persawahan secara adil dan merata. Termasuk di dalamnya adalah menetapkan musim tanam dan jenis padi yang akan ditanam.

Subak juga menjadi tempat untuk membahas rencana pengairan di musim tanam berikutnya, cara menjaga kualitas air, jumlah air yang akan dialirkan, durasi pengairan hingga siapa yang akan melakukan pengairan. Segala permasalahan yang timbul juga bisa dibicarakan dan dicarikan solusi bersama dengan sistem ini.

Fungsi Upacara Subak di Bali

Upacara di Subak Bali

Salah satu keunikan Subak adalah adanya Pura Uluncarik atau Pura Bedugul yang dibangun secara khusus oleh para petani di area persawahan untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri, dewi padi, persawahan dan kesuburan.

Dalam sistem Subak di pulau Bali secara keseluruhan, terdapat dua Pura yang dipercaya sebagai tingkat teratas yaitu Pura Batu Karu yang mewilayahi Bali Barat dan Pura Ulun Danu yang mewilayahi Bali Utara, Timur dan Selatan. Kedua pura ini dibangun berdekatan dengan mata air yang menjadi sumber air untuk subak-subak di seluruh Bali.

Selain itu juga terdapat Pura Taman Ayun yang dipercaya merupakan Pura Subak terbesar di Bali dan memiliki bentuk arsitektural yang unik mirip seperti sebuah taman.

Subak juga sangat khas dalam hal ritual upacara keagamaan, mulai dari yang dilakukan secara perseorangan hingga berkelompok.

Upacara perseorangan:

  • Ngendangin (saat pertama kali mencangkul)
  • Ngawiwit (saat menabur benih)
  • Memula (saat menanam)
  • Neduh (saat padi berumur 1 bulan, memohon agar padi tidak diserang penyakit)
  • Binkunkung (saat padi mulai berisi)
  • Nyangket (saat panen)
  • Manteni (saat padi akan disimpan di lumbung)

Upacara di tingkat kelompok (munduk)

  • Mapag Toya (ungkapan rasa syukur dan memohon air yang berlimpah untuk bertani)
  • Mecaru (memohon keharmonisan dengan alam / mengusir hama)
  • Ngusaba / Ngusaba Nini (memohon kesuburan)

Sistem Subak

Subak Bali

Sistem Subak sendiri berpedoman pada hukum adat yang telah disepakati sebelumnya. Hukum Adat Subak ini disusun berdasarkan dengan ajaran Tri Hita Karana yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai “Tiga hal yang membawa kesejahteraan”, menekankan hubungan harmonis dengan sesama manusia, alam sekitar dan Sang Pencipta.

Sebuah Subak sepenuhnya dijalankan oleh masyarakat tanpa ada campur tangan dari penguasa/pemerintah. Dalam sebuah Subak juga terdapat sebuah struktur organisasi sebagai berikut yang dipilih langsung oleh anggota Subak:

  1. Pekaseh (ketua Subak)
  2. Petajuh (wakil pekaseh)
  3. Penyarikan (juru tulis / sekretaris)
  4. Petengen (bendahara)
  5. Kasinoman (pembantu umum)

Kemudian, terdapat pula kelompok-kelompok petani dan penggarap lahan yang terdiri dari 20-40 orang yang disebut sebagai munduk/tempek, tiap kelompok ini diketuai oleh seorang pengliman. Perlu digarisbawahi, bahwa semua pengurus dan anggota Subak ini juga berprofesi sebagai petani.

Bagaimana Sistem Subak Bekerja

Sistem Subak di Bali bekerja dengan mengutamakan irigasi yang bergilir dan berkelanjutan. Dalam sebuah Subak, para petani dibagi dalam dua atau tiga munduk/tempek, setiap kelompok akan menerima distribusi air secara adil.

Contoh: Dalam satu wilayah Subak terdapat dua kelompok persawahan, sebut saja Munduk 1 dan Munduk 2. Maka, pada musim hujan (musim tanam pertama), kedua kelompok akan menerima air irigasi yang sama. Tapi, ketika musim kemarau tiba (musim tanam kedua), Munduk 1 akan menanam padi (menerima lebih banyak air) sementara Munduk 2 akan menanam palawija.

Ketika musim hujan berikutnya tiba (musim tanam ketiga), maka giliran Munduk 2 yang akan menanam padi dan Munduk 1 menanam palawija. Begitu seterusnya hingga musim-musim tanam berikutnya.

Dalam pembagian munduk, biasanya dilakukan berdasarkan area persawahan yang paling dekat dengan sumber mata air. Dimana yang paling dekat hulu akan jadi kelompok pertama dan yang paling jauh akan menjadi kelompok terakhir, namun semuanya tetap dibagi secara adil.