TUMPEK KANDANG

Suatu Lokalisasi Agama

Studi tentang praktik-praktik keagamaan dewasa ini lebih mengacu pada mengungkapkan agama sebagai suatu tradisi metropolis atau Agama Pusat. Aspek lokalitas kegamaan mendapatkan perhatian minim, Agama tidak hanya diterima melalui kedatangannya sebagai juru selamat dan penyegar moralitas kemanusiaan tetapi telah tersinkritisasi dengan kondisi lokal, namun aspek tradisi lokal sebagai elemen penting dan aktif dalam membentuk Agama sedikit terpinggirkan. Tidak salah terdapat pandangan yang menyatakan studi tentang praktik Keagamaan lokal dinilai kurang relevan bagi pemahaman perubahan politik dan ekonomi global.

Pendapat minimnya kontribusi aspek lokal terhadap transformasi sosial, tidaklah sepenuhnya tepat, terbukti aspek lokalitas juga mampu memberikan cara pandang tentang terhadap perubahan sosial. Aspek lokal atau local genius adalah suatu bukti bertahannya suatu tradisi terhadap gemburan tradisi yang datang dari luar. Peran aktif tradisi lokal sehingga mampu mempengaruhi tradisi yang datang kemudian adalah suatu bentuk kecerdasan yang dimiliki untuk membangun cara hidup yang baru. Praktik keagamaan di Bali memperlihatkan begitu kentalnya pengaruh aspek lokal terhadap pembentukan cara beragama yang dikenal sekaran ini.

Adopsi ritual sekelompok khusus masyarakat oleh kelompok lain pada dasarnya berhubungan dengan perubahan-perubahan sosial yang disebabkan oleh pergeseran-pergeseran ketegangan pada mode-mode produksi pangan primitif. Suku-suku yang melakukan kegiatan pengembalaan telah meminjam atau mewarisi banyak fitur atau elemen ritual mereka dari sukusuku perburuan, karena berburu mengarah pada domestifikasi ternak. Pada serajat kedua pengembalaan seperti yang dipraktikan pada masyarakatmasyarakat wedik, ketika pemeliharaan ternak dilengkapi oleh pertanian beberapa fitur pertanian juga digabungkan dengan ritual-ritual pengembalaan. Agama hindu di jaman industrial ini juga mengambil berbagai fitur atau elemen dari ritual-ritual tradisi agraris yang di dalam tradisi agraris juga terdapat tradisi pengembala dengan ciri domestifikasi ternak.

Oleh karena itu, ritual-ritual yang dilaksanakan di Bali dengan naungan Agama Hindu tidak lepas dari kelanjutan tradisi yang telah dijalankan sebelumnya. Inilah yang disebut sebagai sebagai lokalisasi Agama, di Bali tidak pernah menghapus tradisi yang berjalan sebelumnya yang dianggap baik bagi kehidupan dan sebagai pembangkit emosi mistikal yang mendorongnya untuk berbakthi kepada kekuatan yang tinggi yang olehnya tampak kongkrit di sekitarnya melalui keteraturan alam, pergantian musim dan kedahsyatan alam yang dalam hubungannya dengan hidup dan kematian.

Ritual keagamaan di Bali tidak lepas dari keberlanjutan terhadap tradisi yang telah berjelan dan berkembang sebelumnya. Ritual memperingati Tumpek Uye atau Tumpek Kandang adalah salah satu ritual yang telah tersinkritisasi dari tradisi besar (Agama Hindu yang datang belakangan) dengan tradisi kecil (tradisi agraris). Tumpek Kandang yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye dimaknai atau menurut analisis tekstual sebagai Ritual selamatan untuk binatang-binatang seperti binatang yang disemblih dan binatang piaraan. Hakekatnya pada rahina ini untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Siwa Pasupati yang disebut Rare Angon, penggembala makhluk. Berdasarkan kutipan ini, tegas bahwa yang dipuja adalah Ida Sang Hyang Widhi, bukan memuja binatang, demikian pula terhadap tumbuh-tumbuhan, senjata-senjata, gamelan dan sebagainya.

Pemaknaan tekstual menurut Sunarigama tersebut menyiratkan suatu penyatuan dengan tradisi global dan tidak menghilangkan tradisi yang pernah ada sebelumnya. Adanya Dewa Rare Angon yang tidak ditemukan dalam naskah-naskah berbahasa Sansekerta utama dipadankan dengan Dewa Siwa sebagai bentuk manifestasi penguasa Binatang Ternak. Jelas nafas harmonisasi antara alam lingkungan dengan manusia tetap dijaga oleh Agama Hindu dengan mengadopsi aspek tradisi lokal dalam hal ini tradisi agraris. Jadi telah terjadi rajutan yang harmonis dalam Tubuh Agama Hindu dimana tradisi lokal berperan aktif dalam mempengaruhi cara pandang beragama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *