AIR DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI

Dari Tradisi Agraris ke Tradisi Industrialis

Air merupakan bagian penting dalam menunjang adanya kehidupan selain udara. Bumi diperkirakan ditutupi oleh air hampir 71 %. Sebagian besar air terdapat di Laut dan pada lapisan-lapisan es, air juga terdapat di awan, sungai, danau. Air tidak hanya sebagai elemen Planet Bumi yang memenuhi kebutuhan dasar kehidupan manusia, tetapi juga membentuk berbagai peradaban Dunia. Salah satunya adalah Agama Hindu yang tidak pernah lepas dari air, terdapat sungai-sungai yang disucikan yang membentuk pola beragama masyarakat Hindu di India, sebut saja Sungai Sindhu, Gangga, Yamuna, Saraswati, Narmada, Mahanadi, Kewari dan Sungai Himalaya.

Begitu juga dengan Agama Hindu yang terdeteksi untuk pertama kali di Indonesia juga melibatkan air, yaitu sungai mahakam, Kalimantan Timur. Perkembangan selanjutnya dari Jawa Barat sampai Bali air adalah salah satu elemen yang selalu terlibat dalam peradaban Hindu. Penegsannya dapat dilihat dari salah satu sebutan agama Hindu yang berkembang di Bali yaitu Agama Tirtha. Keterlibatan air dalam setiap ritus keagamaan dari awal sampai akhir akan dapat dijumpai dengan mudah. Tidak hanya dalam ritual, menurut Nordholt (2009) dalam bukunya The Spell Of Power yang menguraikan tentang sejarah politik di Mengwi pada Akhir Bali pertengahan sampai jaman Bali Modern, menyatakan terdapat tiga jenis air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali yaitu, Air Mani (Sperma, kama petak), tirtha (air suci), dan air sungai. Ketiga air ini akan membentuk konstelasi kebudayaan Bali, namun perjalanan jaman dari masa agraris ke Industrialis yang turut merubah pola kognisi masyarakat juga turut menggeser berbagai pandangan masyarakat tetang air. Sekularisasi yang menurut Smith merupakan proses yang merubah pandangan tersebut.

Air dalam tradisi Agraris

Mengulangi pandangan Nordholt bahwa ada tiga jenis air yang membentuk kebudayaan masyarakat Bali, yaitu Air mani, Air suci (Tirtha) dan Sungai. Air mani atau Kama Petak memberikan orientasi prihal relasi antar jenis kelamin, baik tentang pusat garis keturunan, kesadaran setiap jenis kelamin tentang kediriannya maupun potensinya di ruang publik. Kama petak memberikan pandangan hierarkis masyarakat Bali tentang garis keturunanya yang berpusat pada Purusa atau laki-laki. Purusa sebagai pembentuk trah atau keturunan, Purusa juga dapat dikatakan sebagai kepala rumah tangga sehingga tidak salah masyarakat Bali digolongkan mengikuti prinsip-prinsip patrilinial. Keurunan dari satu keluarga juga diistilahkan sebagai “warih” atau air seni. Keturunan ini mengikuti garis sang ayah menurun bukan garis keturunan Ibu. Segala bentuk keputusan publik mengenai adat biasanya ditimpahkan kepada laki-laki yang dianggap mengerti masalah substansial, peparuman atau rapat tentang kebijakan Desa Pakaraman bisanya hanya melibatkan pihak laki-laki atau suami (kuren), bahkan lebih tegas lagi apabila dilihat secara empirik seluruh Bendesa Pakaraman di Bali adalah laki-laki. Memberikan nama kepada anak-anak juga bisanya dilakukan oleh Ayah atau paling tidak mengikuti garis keturunan Ayah. Garis keturunan Ayah juga memberikan kerangka religius, tempat suci keluarga semua berdasarkan atas garis keturunan ayah dari Sanggah, Panti, soroh, pedharman.

Air suci atau Tirtha memberikan pandangan sosio-religius-magi bagi masyarakat Bali, mengikuti gagasan Durkheim Tirtha adalah faktor pembeda dalam menentukan suci tidaknya sesuatu. Durkheim memberikan terminologi inisiasi bagi segala yang telah disucikan atau diperciki tirtha. Memasuki ruang yang suci harus juga menjadi bagian dari komunitas suci yaitu komunitas yang telah diinisaiasi melalui tirtha, jadi tirtha merupakan elemen awal dari keberlangsungan upacara dan merupakan unsur yang membedakan antara sakral dan profan. Tidak salah tempat suci bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu selalu terdapat elemen air baik secara fisik, maupun dalam formula magis atau mantra-mantra. Terdapat penghormatan terhadap sungai suci di Indi seperti, Gangga, Saraswati. Tirtha juga merupakan bagian penutup atau tujuan dari suatu upacara, maka terdapat terminologi “nunas tirtha” setelah selesai metirtha atau persembahyangan. Implikasi lanjutannya adalah sumber air juga merupakan tempat suci atau petirthan.

Nuansa religius-magis dapat di catut melalui upacara melukat yang melibatkan air suci dari berbagi sumber mata air, sekaligus pengobatan usadha juga melibatkan air sebagai sarana penyembuhan. Melukat yaitu upacara untuk memperoleh kesucian sekaligus melebur kekotoran dan nasib buruk yang sedang dialami, termasuk penyakit yang sedang dihadapi yang dianggap berbau klenik. Jadi air bersifat psikosomatis yaitu menyembukan melalui penyembuhan gejala-gejala psikologis yang dihadapi.

Air sungai merupakan bagian penting bagi kehidupan agraris masyarakat Bali, sejarawan mencatat kerajaan Bali Kuno, Bedahulu terkait dengan sungai-sungai yang diperuntungkan untuk mengairi daerah persawahan yaitu sungai pakerisan, sungai petanu dan tampaksiring. Pada jaman dulu pusat kerajaan berperan aktif dalam pembangunan, perawatan dan penyaluran infrastruktur air, diusahakan pembagian air untuk persawan adil atau merata, sehingga secara sosial muncul perkumpulan kasuwakan atau subak. Jadi tidak hanya mengenai pembangunan dan perawatan pengelolaan air sangat penting bagi kehidupan subsistensi masyarakat Bali. Air diusahakan untuk kepentingan kolektif bukan kepentingan pribadi Raja. Perawatan terhadap sumber air utamanya sungai juga membawa dampak sosio-religius, terdapat upacara pengelukatan, magedong-gedongan dan macecolong yang ditempatkan di sungai.

Mengulangi pandangan Nordholt bahwa ada tiga jenis air yang membentuk kebudayaan masyarakat Bali, yaitu Air mani, Air suci (Tirtha) dan Sungai. Air mani atau Kama Petak memberikan orientasi prihal relasi antar jenis kelamin, baik tentang pusat garis keturunan, kesadaran setiap jenis kelamin tentang kediriannya maupun potensinya di ruang publik. Kama petak memberikan pandangan hierarkis masyarakat Bali tentang garis keturunanya yang berpusat pada Purusa atau laki-laki. Purusa sebagai pembentuk trah atau keturunan, Purusa juga dapat dikatakan sebagai kepala rumah tangga sehingga tidak salah masyarakat Bali digolongkan mengikuti prinsip-prinsip patrilinial. Keurunan dari satu keluarga juga diistilahkan sebagai “warih” atau air seni. Keturunan ini mengikuti garis sang ayah menurun bukan garis keturunan Ibu. Segala bentuk keputusan publik mengenai adat biasanya ditimpahkan kepada laki-laki yang dianggap mengerti masalah substansial, peparuman atau rapat tentang kebijakan Desa Pakaraman bisanya hanya melibatkan pihak laki-laki atau suami (kuren), bahkan lebih tegas lagi apabila dilihat secara empirik seluruh Bendesa Pakaraman di Bali adalah laki-laki. Memberikan nama kepada anak-anak juga bisanya dilakukan oleh Ayah atau paling tidak mengikuti garis keturunan Ayah. Garis keturunan Ayah juga memberikan kerangka religius, tempat suci keluarga semua berdasarkan atas garis keturunan ayah dari Sanggah, Panti, soroh, pedharman.

Air suci atau Tirtha memberikan pandangan sosio-religius-magi bagi masyarakat Bali, mengikuti gagasan Durkheim Tirtha adalah faktor pembeda dalam menentukan suci tidaknya sesuatu. Durkheim memberikan terminologi inisiasi bagi segala yang telah disucikan atau diperciki tirtha. Memasuki ruang yang suci harus juga menjadi bagian dari komunitas suci yaitu komunitas yang telah diinisaiasi melalui tirtha, jadi tirtha merupakan elemen awal dari keberlangsungan upacara dan merupakan unsur yang membedakan antara sakral dan profan. Tidak salah tempat suci bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu selalu terdapat elemen air baik secara fisik, maupun dalam formula magis atau mantra-mantra. Terdapat penghormatan terhadap sungai suci di Indi seperti, Gangga, Saraswati. Tirtha juga merupakan bagian penutup atau tujuan dari suatu upacara, maka terdapat terminologi “nunas tirtha” setelah selesai metirtha atau persembahyangan. Implikasi lanjutannya adalah sumber air juga merupakan tempat suci atau petirthan.

Nuansa religius-magis dapat di catut melalui upacara melukat yang melibatkan air suci dari berbagi sumber mata air, sekaligus pengobatan usadha juga melibatkan air sebagai sarana penyembuhan. Melukat yaitu upacara untuk memperoleh kesucian sekaligus melebur kekotoran dan nasib buruk yang sedang dialami, termasuk penyakit yang sedang dihadapi yang dianggap berbau klenik. Jadi air bersifat psikosomatis yaitu menyembukan melalui penyembuhan gejala-gejala psikologis yang dihadapi.

Air sungai merupakan bagian penting bagi kehidupan agraris masyarakat Bali, sejarawan mencatat kerajaan Bali Kuno, Bedahulu terkait dengan sungai-sungai yang diperuntungkan untuk mengairi daerah persawahan yaitu sungai pakerisan, sungai petanu dan tampaksiring. Pada jaman dulu pusat kerajaan berperan aktif dalam pembangunan, perawatan dan penyaluran infrastruktur air, diusahakan pembagian air untuk persawan adil atau merata, sehingga secara sosial muncul perkumpulan kasuwakan atau subak. Jadi tidak hanya mengenai pembangunan dan perawatan pengelolaan air sangat penting bagi kehidupan subsistensi masyarakat Bali. Air diusahakan untuk kepentingan kolektif bukan kepentingan pribadi Raja. Perawatan terhadap sumber air utamanya sungai juga membawa dampak sosio-religius, terdapat upacara pengelukatan, magedong-gedongan dan macecolong yang ditempatkan di sungai.

Air Dalam Tradisi Industrialis

Proses perkembangan masyarakat dari masa agraris ke industrialis, menggeser berbagai bentuk kehidupan masyarakat dari tingkat infrastruktur, struktur dan suprastruktur. Pergeseran ini juga berlaku bagi kognisi masyarakat Bali tentang air. Kehidupan agraris yang dekat dan tergantung dengan air telah bergeser, air yang dulu bernuansa sosio-religius-magis kini telah mengalami “reifikasi” proses pembendaan atau penghilangan jiwa.

Keterlepasan dari kehidupan agraris menuju kehidupan industri emberikan cakrawala baru tentang bumi yang ditempatinya, sebagaimana gagasan modernis manusia dan alam tidak lagi dipandang hidup harmonis, serasi dan saling membutuhkan tetapi lebih pada posisi asimetris. Manusia menduduki poisisi sebagai penguasa alam, tidak lagi pengguna atau peminjam, sehingga setiap menggunakan air tidak lagi melakukan upacara meminta air atau mapag toya, lihatlah Industri air kemasan yang menjadikan air sebagai komoditas. Pusat kerajaan yang dulu mengikuti sumber air sebagai kepentingan kolektif, kini seakan bersifat eksklusif, air dimiliki oleh Industri air dalam kemasan, pantai berjejer Villa, Hotel yang notabene dimiliki oleh orangorang elit, tirtha telah mengalami pergeseran dari air suci yang diberikan mantra menjadi air bersih dari proses industrial. Banyak penggunaan tirta yang mengambil dari air kemasan dalam bentuk gelas plastik, bukan dari keran yang sudah ada di jeroan Pura. Air kini hanya sekedar benda yang dikuasai oleh sebagian masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *