3 Water Palace di Bali yang Indah dan Penuh Sejarah

Pulau Bali punya banyak objek wisata mulai dari pantai, gunung, Pura hingga bangunan bersejarah. Salah satu yang cukup unik di Bali adalah kehadiran istana air atau water palace. Penamaan water palace ini didasarkan pada bangunan yang merupakan milik atau dibangun oleh keluarga kerajaan dan memiliki air atau kolam sebagai elemen utamanya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di water palace, tapi tentu yang paling sering dilakukan adalah menikmati keindahan dan kemegahan bangunannya, serta tidak lupa untuk mengabadikan kunjungan dalam bentuk foto.

Berikut ini tiga istana air di Bali yang sangat indah dan punya sejarahnya masing-masing.

Ubud Water Palace

Ubud Water Palace Bali

Mempunyai nama resmi Pura Taman Kemuda Saraswati, atau warga sekitar lebih sering menyebutnya sebagai Pura Taman Saraswati. Tapi, lokasi ini lebih terkenal dengan nama “Ubud Water Palace”.

Pembangunan Pura Taman Saraswati diprakarsai oleh pangeran Puri Ubud pada tahun 1951. Pengerjaan Ubud Water Palace dan beberapa puri serta Pura di sekitar Ubud dipercayakan kepada I Gusti Nyoman Lempad, salah satu pematung dan undagi (arsitek adat Bali) yang terkemuka. 

Seperti namanya, Pura Taman Saraswati didedikasikan untuk Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan dan seni dalam kepercayaan Hindu Bali.

Bagian paling ikonik dari Ubud Water Palace adalah kolam teratai atau Lotus Pond yang berada di luar area Pura serta kori agung yang menjadi pintu masuk utama menuju Pura Taman Saraswati. Perpaduan antara kolam lotus dan kori agung ini memunculkan nuansa yang sangat megah sekaligus menenangkan. Terlihat seperti sedang berada di depan pintu masuk menuju sebuah istana megah dengan ukiran Bali yang sangat khas.

Tirta Gangga Water Palace

Tirta Gangga Water Palace Bali

Tirta Gangga Water Palace adalah sebuah kompleks bekas istana kerajaan dengan taman air mancur sebagai elemen utamanya. Taman air mancur yang menyerupai labirin ditambah ikan-ikan yang menjadi penghuni kolam-kolam besarnya adalah daya tarik utama Tirta Gangga.

Istana air ini dibangun atas perintah dari raja Kerajaan Karangasem terdahulu, airnya berasal dari sebuah sumber mata air yang disucikan hingga kini. 

Di tingkatan paling atas merupakan sebuah mata air yang disucikan, di tingkat kedua adalah kolam renang yang boleh dipergunakan untuk berenang secara umum sementara tingkatan paling bawah merupakan kolam ikan dan kolam air mancur. Dari sumber mata air yang sama juga digunakan untuk irigasi di persawahan sekitar Tirta Gangga.

Nama “Tirta Gangga” sendiri memiliki arti “Air (sungai) Gangga”, salah satu nama sungai di India yang memang disucikan oleh umat Hindu.

Belum dua dekade setelah selesai, Tirta Gangga Water Palace hampir hancur seluruhnya pada tahun 1963 saat erupsi Gunung Agung. Namun, taman dan istana ini kemudian direstorasi oleh pemerintah untuk dijadikan objek wisata.

Ujung Water Palace

Taman Ujung Water Palace Bali

Ujung Water Palace atau dikenal juga dengan nama Taman Ujung atau ada juga yang menyebutnya sebagai Taman Sukasada adalah sebuah bekas istana kerajaan yang dibangun sebelum masa kemerdekaan Indonesia.

Taman Ujung memiliki tiga kolam berukuran besar dengan bangunan yang disebut sebagai Gili Bale di tengah-tengahnya dan terhubung ke pinggir kolam oleh jembatan penghubung.

Sampai saat ini, Taman Ujung masih merupakan milik pribadi keluarga kerajaan namun dibuka untuk umum. Pembangunannya dimulai pada tahun 1909, merupakan perluasan dari kolam Dirah yang sudah dibangun pada 1901. Kolam ini berada di bagian selatan Taman Ujung yang dulunya digunakan oleh kerajaan untuk menghukum orang yang bersalah.

Menurut legenda, setiap orang yang dicurigai melakukan kesalahan oleh hakim kerajaan akan diwajibkan mandi di kolam Dirah. Jika dia ternyata tidak bersalah, maka dia akan baik-baik saja. Sebaliknya, jika dia ternyata bersalah, maka akan jatuh sakit bahkan bisa meninggal.

Keunikan dari Taman Ujung selain legenda kolam Dirah adalah arsitek untuk istana ini berasal dari tiga latar belakang yang berbeda yaitu Dutch van Den Hentz dari Belanda, seorang arsitek Tiongkok bernama Loto Ang dan para undagi (arsitek adat Bali). Taman Ujung diresmikan pada 1937 dengan prasasti yang menggunakan aksara Latin dan Bali dan dalam dua bahasa yaitu Bahasa Melayu dan Bahasa Bali.

Sayangnya, bangunan asli Taman Ujung hampir hancur seutuhnya karena erupsi Gunung Agung pada 1963 dan gempa bumi di daerah Karangasem pada tahun 1975. Hingga yang tersisa kini sebagian besar merupakan hasil restorasi.

Itulah tiga water palace yang ada di Bali, selain indah, tiap-tiap istana air juga memiliki keunikan dan ceritanya masing-masing. Mulai dari Ubud Water Palace yang ternyata adalah sebuah pura hingga Ujung Water Palace yang punya legenda yang menarik tentang kolam Dirah.