FENOMENOLOGI TRADISI MABUU-BUU

Ritus Harmonisasi Ala Bali

(Gambar olehArtem Beliakin)

“kandungan bagi setiap janin adalah kenyamanan paripurna ketika setiap kebutuhan adalah hak yang terpenuhi, jadi dalam psikoanalisis gerak kehidupan manusia selalu ingin kembali pada kenyamanan yang paripurna”.

Ogoh-ogoh menjadi daya tarik setiap menjelang hari suci nyepi yang jatuh pada pananggal apisan sasih kedasa atau tepat sehari setelah sasih kesanga. Pengarakan ogoh-ogoh dengan penuh semangat atas hasil kreatifitas berikut dibumbui dengan teatrikal kolosal untuk membuat cerita menjadi hidup. Pesta kecil sebelum melaksanakan nyepi ini secara psikologis merupakan luapan emosional untuk menghadapi berbagai kemungkinan di Tahun yang baru, suatu keadaan yang serba mungkin dengan penuh resiko dan tantangan.

Sebelum ogoh-ogoh menjadi gandrung di awal era 90-an, ritual wajib yang dilakukan sebelum hari suci nyepi adalah pecaruan di segala tingkat, rumah tangga, Desa sampai pada Kabupaten, dan menjelang senja hari melakukan Mabuu-buu. Ritual Mabuu-buu ini dilaksanakan dengan membawa daun janur yang sudah kering (Danyuh) kemudian dibakar, tirta yang diperoleh dari pemangku balai banjar, membawa kulkul (kentongan), Ceng-ceng (alat musik tradisional terdiri atas dua buah, berbentuk pipih terdapat pegangan cara membunyikan di gesekan). Ritual dilakukan dengan berkeliling rumah sembari mengucapkan “nduh-nduh pemali biin mani nyepi” berulang-ulang kali.

Meminjam Gagasan Rudolf Otto, landasan sikap keagamaan adalah keyakinan tentang sesuatu yang gaib. Penggambaran manusia Bali pada masa kolonial sebagai masyarakat yang damai, etnosentrik (kedaerahan), antik dan religius mungkin tidak sepenuhnya dapat dipercaya, tetapi kepercayaan kepada kekuatan adikodrati yang mengatasi alam tidak dapat dipungkiri. Gaib dalam pengertian kepercayaan pada kekuatan supranatural yang mengatasi keterbatasan manusia baik itu tentang pengelolaan alam lingkungan, rekayasa musim, dan mengatasi krisis. Kekuatan yang dahsyat seturut misterius, yang keramat seturut nyata ikut dalam andil kehidupan manusia walaupun tidak sepenuhnya. Ke-gaiban inilah yang kemudian disebut sebagai “pemali”.

Manusia Bali sebagaimana digambarkan oleh kebudayaan mereka selalu mencoba mencari dan menemukan keharmonisan dalam hidup dan kehidupan, mengingat segala keterbatasan yang dimiliki, hidup berdampingan secara harmonis dengan kegaiban merupakan syaratnya. Ruang mentalnya telah menggambarkan bahwa kehidupan tidak hanya apa yang terlihat, tercerna dan teraba, tetapi juga apa yang tidak terlihat, tercerna dan teraba, dengan harmonisasi maka akan membentuk laku-laku baik fisik maupun simbolik. Secara fisik memberi batas pada ruang geraknya yaitu memelihara ruang-ruang yang dianggap tenget dan sakral, membatasi mobilitas pada waktu-waktu yang dianggap tenget dan sakral, menghormati benda-benda yang dianggap tenget dan sakral. Inilah yang kemudian dianggap sebagai batas nalar atau bentuk toleransi manusia.

Laku simbolik tergambar dari berbagai bentuk ritual yang ditujukan sepenuhnya pada hubungan harmonis manusia dengan yang tidak terlihat, tidak terserap dan tidak teraba itu. Gerak kembali pada suatu keadaan yang nyaman secara psikologis telah digambarkan pada janin yang masih dalam kandungan segalanya seakan terpenuhi dan damai. Mengharmonisasi lingkungan baik fisik maupun mental, lingkungan dan diri sendiri dalam menyambut perayaan hari suci nyepi yang penuh kedamaian. Fenomena ini merupakan cara berada manusia Bali dan cara merasakan kehidupan dalam ruang dan waktu. Manusia Bali ingin masuk dalam kehidupannya merasakan hidupnya dengan dunia di sekelilingnya, maka dari itu dalam menjembatani hidupnya lingkungannya ruang waktunya media penyambung berupa ritual sangat diperlukan. Melalui ritual manusia ingin merasakan lingkungan yang tidak terlihat, terserap oleh indria dan teraba, menghadapi lingkungan menjalin hubungan dengan harmonis tanpa dalih menguasai dan merajai.